Plantae

Ketika kita pergi ke hutan dan mengamati ke sekeliling yang dipenuhi oleh pohon-pohon yang tumbuh lebat dan subur, sangatlah sulit bagi kita untuk membayangkan bahwa diperlukan waktu yang sangat lama untuk mencapai kondisi alam yang seperti itu, daratan hutan yang dipenuhi oleh kehidupan makroskopik. Kenapa demikian?

Dari fosil-fosil yang ditemukan serta hipotesis yang menyatakan kehidupan di bumi berasal dari bahan-bahan tak hidup yang terjadi secara spontan, maka kemungkinan kehidupan berawal dari lautan dan perairan, di sanalah diperkirakan kehidupan berevolusi selama 3 miliyar tahun, berupa kehidupan mikroskopik.

Tumbuhan kemungkinan berevolusi dari alga hijau yang hidup di perairan, dengan berbagai bentuk adaptasi terhadap kehidupan di darat. Sehingga saat ini kita mengenal beragam tumbuhan, mulai dari Bryophyta (tumbuhan lumut, tanpa jaringan pembuluh), Pteridophyta (tumbuhan paku, tumbuhan berpembuluh tanpa biji), Gymnospermae (tumbuhan berpembuluh, berbiji terbuka), dan Angiospermae (tumbuhan berpembuluh berbiji tertutup).

Standar Kompetensi

Mengidentifikasi ciri morfologi dan anatomi tubuh tumbuhan (sel, jaringan, sistem jaringan pada organ, organ), proses tumbuh dan berkembang, reproduksi dan pemencarannya, klasifikasi dan peranan tumbuhan bagi kehidupan.

Kompetensi Dasar

8.1. Mengidentifikasi ciri morfologi dan ciri anatomi tubuh tumbuhan (sel, jaringan, sistem jaringan pada organ, organ).
8.2. Mengidentifikasi proses tumbuh dan berkembang, reproduksi serta pemencarannya pada tumbuhan.
8.3. Mengklasifikasikan jenis tumbuhan berdasarkan ciri dan sifat yang ada
8.4. Mendeskripsikan peranan tumbuhan bagi kehidupan.

Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari Plantae, kalian diharapkan dapat:

• Mengidentifikasi penyusun tubuh tumbuhan (sel, jaringan, sistem jaringan pada organ , dan organ) dengan pengamatan ciri morfologi dan anatomi serta penafsiran Gambar.
• Mendeskripsikan perbedaan proses tumbuh dan berkembang, reproduksi serta pemencarannya pada tumbuhan.
• Mengklasifikasikan jenis tumbuhan berdasarkan ciri dan sifat yang ada.
• Mengkomunikasikan peranan plantae dalam bidang pertanian dan dalam kehidupan sehari-hari.

Kata-Kata Kunci

Alogami Herkogami
Amfiksis Hibridisasi
Anatomi Hidroponik
Angiospermae Higroskopis
Apomiksasis Heterostili
Aporogami Imbibisi
Autogami Involunter
Diferensiasi Irreversibel
Difusi Klasifikasi
Dikogami Meristem Konyugasi
Dikotil Monokotil
Dispersal Morfologi
Dormansi Morfogenesis
Ekstravaskuler Parenkim
Endonom Partenogenesis
Esionom Partenokarpi
Etiolasi Porogami
Floem Transport Aktif
Fototropisme Transpirasi
Gutasi Vaskuler
Geitonogami Volunter
Gymnospermae

8.1. Sel dan jaringan tumbuhan Perbedaan sel tumbuhan dari sel hewan ditunjukkan dari adanya kloroplas, sel yang dewasa memiliki vakuola sentral yang besar yang berfungsi membantu memelihara turgiditas sel, serta adanya dinding sel pada sel tumbuhan. Dinding sel tumbuhan terutama disusun oleh selulosa. Kebanyakan sel tumbuhan, khususnya sel yang memberikan kekuatan, memiliki dua lapis dinding sel, dinding primer dan sekunder. Pada dinding sel ada bagian-bagian yang tetap tipis disebut noktah, melalui noktah inilah aliran sitoplasma sel-sel yang berdampingan (plasmodesmata) dapat saling berhubungan. Plasmodesmata merupakan saluran komunikasi dan sirkulasi di antara sel-sel tumbuhan yang berdampingan (Gambar 8.2)

Pada makhluk hidup multiseluler, sel-sel yang sejenis mengalami proses spesialisasi untuk membentuk jaringan embrional (meristem), pada tumbuhan terdapat pada titik tumbuh. Jaringan embrional kemudian berdiferensiasi membentuk jaringan lainnya. Berkenaan dengan proses tersebut, pada tumbuhan dan hewan dijumpai berbagai macam jaringan. Berdasarkan perkembangannya, jaringan tumbuhan dibedakan atas dua macam, yaitu jaringan meristem (embrionik = muda) dan jaringan dewasa.

Jaringan dewasa tidak lagi mengalami pembelahan sel, dibedakan atas jaringan epidermis, jaringan parenkim, jaringan penyokong (klorenkima dan sklerenkim), jaringan pembuluh (xilem dan floem), serta jaringan gabus (periderm).

Noktah

Gambar 8.2. Struktur sel tumbuhan (Campbell, 2006)..

a. Jaringan meristem Pada jaringan ini terjadi pembentukan sel-sel baru (aktif membelah). Jaringan meristem terdapat pada titik tumbuh, misalnya pada ujung akar, ujung batang, maupun kambium. Jaringan yang terdapat di ujung akar dan ujung batang disebut meristem ujung (apical meristem), yang terdapat di antara xilem dan floem disebut kambium pembuluh dan yang menggantikan fungsi epidermis sebagai jaringan protektif disebut jaringan gabus, disebut juga periderm seperti Gambar 8.3 .berikut.

Gambar 8.3. Jaringan meristem pada akar (Campbell, 2006).

b. Jaringan epidermis Jaringan epidermis merupakan lapisan terluar dari organ tumbuhan, umumnya terdiri dari selapis sel hidup dan tersusun rapat, berbentuk pipih, kubus, prisma, atau berlekuk- lekuk (Gambar 8.4). Jaringan ini berfungsi melindungi jaringan yang terletak di dalamnya dari kerusakan fisik atau infeksi patogen. Pada organ yang mengalami pertumbuhan sekunder fungsi perlindungan digantikan oleh jaringan gabus, yang terbentuk kemudian. Pada daun atau batang beberapa tumbuhan, sel-sel epidermisnya menghasilkan senyawa lilin yang disebut kutikula (apa fungsi kutikula?).

Gambar 8.4. Jaringan epidermis daun dikotil (Campbell, 2006)..

Stomata Epidermis Sumber: Botany, 1979 Gambar 8.5. Epidermis permukaan daun Zea mays.

c. Jaringan parenkim Jaringan parenkim merupakan jaringan dasar, terdiri atas sel-sel hidup, mempunyai dinding yang tipis (Gambar 8.6), umumnya berbentuk poligonal. Pada daun dijumpai sel parenkim yang mengandung kloroplas yang disebut klorenkima, berperan penting dalam proses fotosintesis. Dijumpai pula sel-sel parenkim tanpa kloroplas pada umbi, buah, biji, yang berfungsi sebagai tempat cadangan makanan. Sel parenkim memiliki vakuola besar, dapat mengandung pati, minyak, kristal, serta beragam hasil sekresi sel lainnya. Sel parenkim dewasa dapat membelah dan berdiferensiasi menjadi tipe sel lainnya. Kemampuan sel parenkim memperbanyak diri sangat penting untuk memperbaiki jaringan yang rusak, misalnya pada saat tumbuhan terluka.

Noktah Butir amilum Gambar 8.6. Sel parenkim (Campbell, 2006).

d. Jaringan penyokong/penguat Jaringan penyokong berfungsi agar dapat mengokohkan berdirinya tubuh tumbuhan. Jaringan ini terbagi dua tipe, yaitu kolenkim (sel hidup, penebalan dinding selulosa pada sudut-sudut sel, pektin), berperan mengokohkan batang muda yang belum berkayu, dan sklerenkim (sel mati, dinding tebal dan mengeras, lignin). Ada dua tipe sklerenkim yaitu sklereid (sel batu, bentuk bulat, pada tempurung kelapa) dan serat (bentuk panjang dan kedua ujung meruncing, terdapat pada permukaan batang kelapa).

* Jaringan kolenkim Seperti halnya jaringan parenkim, sel-sel kolenkim tersusun dari sel-sel hidup, tetapi dinding sel mengalami penebalan yang tidak merata sehingga dapat menghasilkan berbagai tipe kolenkim, seperti kolenkim sudut dan kolenkim bidang. Fungsinya sebagai jaringan penunjang organ-organ muda (Gambar 8.7).

Sumber: Biology of Plants 5th edition, 1992 Gambar 8.7. Sel kolenkim.

* Jaringan sklerenkim Berbeda dengan kolenkim, jaringan sklerenkim tersusun dari selsel yang berdinding tebal dan protoplasmanya mati atau tidak aktif, mengandung lignin (zat kayu). Adanya lignin menyebabkan dinding sel menjadi kaku dan keras. Jaringan sklerenkim yang dewasa

terdapat di daerah yang pertumbuhan memanjangnya sudah berhenti. Terdapat dua tipe jaringan sklerenkim yakni serat dengan sel-sel panjang dan ramping dengan ujung meruncing serta sklereid dengan sel-sel pendek agak membulat (Gambar 8.8). Beberapa spesies tumbuhan mempunyai serat bernilai ekonomi tinggi, misalnya serat manila sebagai bahan dasar tali. Sel sklereid berdinding tebal dan sangat keras, dijumpai sebagai penyusun kulit kacang dan kulit biji (dapatkah kalian mencari contoh serat dan sklereid lainnya?).

noktah

noktah

Gambar 8.8. Sel sklerenkim, serat (kiri) dan sklereid (kanan) (Campbell, 2006).

e. Jaringan pengangkut Jaringan pengangkut, jaringan pertama adalah xilem (pembuluh kayu: sel mati, dinding berlignin), tersusun atas trakea, trakeid, serat, dan parenkim xilem, berfungsi mengangkut air dan garam mineral dari akar ke daun. Jaringan kedua ialah floem (pembuluh tapis dengan sel pengiring = companion cell), berfungsi sebagai pengangkut hasil asimilasi dari daun ke seluruh organ tubuh yang lain. Floem tersusun atas: pembuluh tapis, sel tapis, serat floem, parenkim floem serta sel pengiring.

Jaringan xilem

Xilem merupakan jaringan kompleks yang berfungsi sebagai jaringan pengangkut air dan garam mineral dari akar ke daun. Sel-sel jaringan tersebut panjang-panjang menyerupai serat. Berdasarkan sifat hubungan sel-selnya, dikenal dua macam xilem, yaitu trakea dan trakeid (Gambar 8.9). Dikatakan trakea, jika dinding batas di antara sel-sel penyusunnya telah hilang dan yang lain. terdapat lempeng perforasi. Dikatakan trakeid, jika batas di antara sel – sel penyusunnya tampak berlubang – lubang yang disebut noktah (pit). Pada umumnya, dinding – dinding samping juga bernoktah.

Noktah Noktah Trakea Lempeng perforasi Trakeid Gambar 8.9. Jaringan xylem (Campbell, 2006).

Jaringan floem

Jaringan floem termasuk jaringan kompleks dan berfungsi sebagai jaringan pengangkut. Berbeda dengan xilem, zat yang diangkut umumnya senyawa organik hasil fotosintesis yang terjadi di daun. Floem terdiri dari pembuluh tapis, sel tapis, parenkim, serat dan sel pengirim (Gambar 8.10). Komponen pembuluh tersusun dari sel-sel panjang yang ujung-ujungnya menyatu sehingga membentuk pembuluh. Dinding batas kedua sel berlubang-lubang seperti tapisan, melalui lubang-lubang tersebut protoplasma kedua sel dapat berhubungan secara langsung.

Komponen pembuluh tapis (floem) merupakan sel-sel yang hidup. Suatu keistimewaan dari bagian tersebut adalah bahwa nukleusnya hilang setelah sel dewasa sehingga sel-sel komponen pembuluh tapis berhubungan dengan satu atau beberapa sel pengiring, di antara keduanya dihubungkan oleh sejumlah plasmodesmata. Sel pengiring sangat erat hubungannya dengan pembuluh tapis, apabila pembuluh tapis mati, maka sel pengiring akan mati (kenapa demikian?), keduanya terbentuk dari sel induk yang sama.

Gambar 8.10. Jaringan floem(Campbell, 2006).

Komponen pembuluh tapis (floem) merupakan sel-sel yang hidup. Suatu keistimewaan dari bagian tersebut adalah bahwa nukleusnya hilang setelah sel dewasa sehingga sel-sel komponen pembuluh tapis berhubungan dengan satu atau beberapa sel pengiring, di antara keduanya dihubungkan oleh sejumlah plasmodesmata. Sel pengiring sangat erat hubungannya dengan pembuluh tapis, apabila pembuluh tapis mati, maka sel pengiring akan mati (kenapa demikian?), keduanya terbentuk dari sel induk yang sama.

Jaringan xilem dan floem membentuk satu kesatuan fisiologis. Pada umumnya, xilem dan floem berdekatan letaknya dan dapat dengan mudah dibedakan dari bagian yang lain. Kedua jaringan kompleks tersebut membentuk jaringan pengangkut.

f. Jaringan periderm (jaringan gabus) Jaringan gabus (periderm) terdiri atas sel-sel gabus yang dihasilkan oleh kambium gabus (felogen), berfungsi menutupi akar, batang dan cabang dari gangguan fisik, menggantikan fungsi epidermis sebagai pelindung. Jaringan gabus terdapat pada tumbuhan dikotil.

8.2. Organ tumbuhan Tubuh tumbuhan terdiri dari akar dan tajuk yang dihubungkan secara kontinyu oleh jaringan pembuluh. Perhatikan Gambar 8.11! Akar berfungsi sebagai penopang berdirinya tumbuhan, pengabsorbsi air dan mineral, serta tempat menyimpan cadangan makanan. Tajuk terdiri dari batang dan daun, serta bunga (bunga merupakan adaptasi untuk reproduksi tumbuhan angiospemae). Batang adalah bagian tumbuhan yang terdapat di atas tanah, mendukung daun-daun dan bunga. Pada pohon, batang meliputi batang pokok dan semua

cabang-cabang, termasuk ranting-ranting yang kecil. Batang mempunyai buku sebagai tempat melekatnya daun, juga mempunyai ruas yang terdapat di antara dua buku. Daun merupakan tempat utama berlangsungnya proses fotosintesis, terdiri dari helai daun yang melebar (lamina) dan tangkai daun (petiol) yang menghubungkan helai daun dengan batang. Pada ujung batang terdapat tunas yang belum berkembang, disebut tunas ujung (tunas apikal). Pada ketiak daun terdapat tunas lateral yang nantinya dapat tumbuh membentuk cabang atau bunga.

Gambar 8.11. Tubuh tumbuhan (dikotil) (Campbell, 2006).

8.3. Sistem jaringan penyusun tubuh tumbuhan Akar, batang, dan daun tersusun atas tiga sistem jaringan, yaitu epidermis, sistem berkas pembuluh, dan sistem jaringan dasar.

Epidermis berfungsi melindungi akar, batang, dan daun yang masih muda dari kerusakan fisik atau infeksi patogen. Dijumpai senyawa lilin, disebut kutikula, berfungsi untuk melindungi tumbuhan dari proses kehilangan air (pada tumbuhan yang hidup di habitat kering, bagaimana lapisan kutikulanya?). Sistem jaringan pembuluh (xilem&floem) berperan dalam transport air dan garam mineral serta hasil fotosintesis. Sistem jaringan dasar, mengisi daerah di antara sistem epidermis dan sistem pembuluh, memiliki fungsi sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis, tempat cadangan makanan, sebagai penguat atau penyokong tubuh tumbuhan, terutama tersusun dari parenkim, tetapi terdapat juga kolenkim dan sklerenkim.

A. Struktur akar tumbuhan dikotil dan monokotil Akar tumbuhan tersusun dari berbagai macam jaringan, berkembang dari jaringan meristem yang terdapat di ujung akar. Letak jaringan tersebut tidak tepat di ujung, melainkan sedikit agak ke belakang dari bagian ujung. Letak yang demikian memungkinkan akar membentuk sel-sel baru untuk memperpanjang sumbu akar dan selsel yang akan menjadi tudung akar. Bagian tersebut berfungsi sebagai organ yang melindungi bagian meristem, melumasi akar utuk mengurangi gesekan antara ujung akar dan partikel tanah, serta mengatur pertumbuhan bagian-bagian akar yang lain.

Di belakang tudung akar, sepanjang lebih kurang 1 cm terdapat bagian akar dengan permukaan yang halus. Daerah itu dikenal sebagai daerah perpanjangan. Sel-sel hasil pembelahan jaringan meristem tumbuh dengan cepat dan menghasilkan perpanjangan akar. Satu atau beberapa sentimeter dari titik tempat perpanjangan berhenti terdapat rambut-rambut halus yang menutupi permukaan akar. Bagian itu disebut rambut akar. Di belakang daerah rambut akar merupakan tempat timbulnya akar lateral.

Susunan akar tumbuhan dikotil

Untuk memperoleh Gambaran yang baik tentang struktur akar dikotil dapat dipelajari irisan melintang akar primer dewasa. Preparat tersebut dapat diperoleh dari bagian daerah rambut akar atau bagian yang lebih tua. Perhatikan Gambar di atas! Pada umumnya, akar tumbuhan dikotil tersusun dari lapisan penutup luar (epidermis), kulit (korteks), dan silinder pusat (stele) (Gambar 8.12).

a. Epidermis Epidermis tersusun dari selapis selapis yang tersusun rapat, menutupi permukaan akar. Air dan unsur garam (mineral) diserap oleh akar dari tanah melalui sel-sel epidermis. Beberapa sel epidermis tumbuh menjulur membentuk rambut akar. Keberadaan

rambut-rambut akar akan memperluas bidang permukaan sehingga penyerapan menjadi lebih efektif.

b. Korteks Di sebelah dalam epidermis, terdapat sistem jaringan dasar yang membentuk korteks akar, parenkim sebagai komponen utamanya. Sel-sel parenkim korteks susunannya longgar sehingga membentuk ruang-ruang antar sel. Cadangan makanan berupa pati biasanya ditimbun pada korteks akar.

Satu atau beberapa lapisan sel korteks di bawah epidermis memiliki dinding sel yang dilapisi suberin, sejenis karbohidrat yang menyebabkan bagian tersebut tampak berbeda dengan bagian korteks yang lain. Bagian korteks itu disebut eksodermis. Lapisan selsel korteks yang paling dalam tersusun rapat tanpa ruang antarsel dan terdiri atas sel-sel berbentuk kotak. Lapisan sel itu disebut endodermis. Sel-sel endodermis mengalami penebalan suberin pada dinding-dinding radial dan vertikalnya sehingga membentuk semacam pita. Pita itu disebut pita Caspary, sesuai dengan nama penemunya, Caspary. Pita Caspary memiliki fungsi penting sebagai penghalang masuknya air serta mineral terlarut melalui jalur ekstraseluler, menentukan jenis-jenis mineral apa saja yang dapat memasuki xilem akar. Beberapa sel endodermis tetap berdinding tipis, disebut sel peresap (apa fungsi sel peresap?).

Sumber: Biology of Plants 5th edition, 1992 Gambar 8.12. Penampang melintang akar dikotil.

c. Stele Silinder pusat tersusun dari perisikel dan ikatan pembuluh. Perisikel terdapat di sebelah dalam endodermis. Perisikel tersusun dari sel-sel parenkim. Pada bagian inilah tumbuh akar lateral. Ikatan pembuluh tersusun dari xilem dan floem yang berselang-seling pada bidang radial. Dalam penampang melintang tampak xilem

mengelompok di tengah dan membentuk Gambaran seperti bintang. Floem tampak sebagai jalur-jalur di antara lengan-lengan bintang xilem. Antara xilem dan floem dipisahkan oleh sederetan parenkim yang dikenal sebagai parenkim penghubung. Susunan akar tumbuhan monokotil

Pada dasarnya, susunan jaringan pada akar tumbuhan monokotil adalah sama dengan akar tumbuhan dikotil. Beberapa perbedaan yang tampak, antara lain:

a. Endodermis sering membentuk dinding sekunder tebal sehingga mudah dikenali pada penampang melintang akar (Gambar 8.13). Pertumbuhan xilem tidak berbentuk bintang, melainkan terpisah satu sama lainnya. Ditengah silinder pembuluh terbentuk empulur yang berisi sel-sel parenkim. Sumber: Biology of Plants 5th edition, 1992 Gambar 8.13. Penampang melintang akar monokotil (Zea mays).

B.Struktur batang tumbuhan dikotil dan monokotil

Batang merupakan suatu organ tumbuhan yang tersusun dari berbagai macam jaringan. Untuk memperoleh Gambaran yang baik tentang struktur batang, pelajarilah struktur batang tumbuhan jarak pagar (Jatropa curcas) sebagai contoh tumbuhan dikotil dan batang jagung (Zea mays) sebagai contoh tumbuhan monokotil.

Susunan batang tumbuhan dikotil

Bagian terluar batang dikotil berupa selapis sel-sel yang tersusun rapat dan tertutup kutikula. Lapisan sel itu disebut epidermis. Pada beberapa tempat jaringan tersebut robek dan membentuk lubang yang disebut lentisel.

Di sebelah dalam lentisel terdapat ruang udara yang berhubungan langsung dengan sistem ruang udara antar sel parenkim. Di sebelah

dalam epidemis terdapat korteks yang dapat dibedakan sebagai berikut:

a. korteks luar, terdiri atas jaringan parenkim dan kolenkim. Pada beberapa tempat bagian tersebut tidak ada, tetapi pada bagian lain tampak selapis sel-sel parenkim yang berhubungan erat dengan kolenkim dan berselang-seling atau saling berdesakan antara keduanya. b. Korteks dalam, terdiri atas jaringan parenkim longgar dengan ruang antar sel yang jelas berhubungan dengan ruang udara di bawah lentisel. Sel-sel kolenkim banyak mengandung klorofil yang memberi warna hijau pada batang, terutama batang yang masih muda. Bagian terdalam korteks sering mengandung banyak pati sehingga mudah dikenali, disebut seludang pati. Dinding radial dan melintang dari bagian tersebut saling menempel erat sehingga tidak dijumpai ruang antar sel yang menghubungkannya dengan bagian lain dari korteks (Gambar 8.14).

Sebelah dalam dari korteks adalah silinder pusat (stele). Pada bagian tersebut terdapat ikatan pembuluh dengan susunan yang bervariasi, bergantung pada jenis tumbuhannya.

Pada tumbuhan jarak, ikatan pembuluhnya bertipe kolateral, xilem di dalam dan floem diluar. Diantara xilem dan floem terdapat meristem yang dikenal dengan kambium. Dengan adanya kambium maka batang tumbuhan dikotil dapat melakukan penebalan sekunder. Akibat pertumbuhan tersebut maka struktur batang dikotil dewasa berbeda dengan struktur batang yang muda.

Bagian paling dalam merupakan bagian pusat yang tersusun dari jaringan parenkim yang susunannya longgar. Bagian itu disebut empulur. Pada beberapa jenis tumbuhan, perpanjangan batang (pertumbuhan primer) menyebabkan robeknya empulur, sehingga empulur tersebut berlubang.

Empulur pulur Gambar 8.14. Susunan batang utama tumbuhan dikotil dengan penebalan sekunder (Cecie, 1996).

Susunan batang tumbuhan monokotil

Pada bagian terluar batang tumbuhan monokotil terdapat epidermis dengan stomata. Di bawah epidermis, terdapat satu atau beberapa lapis sel-sel serat yang menyusun korteks. Bagian itu tidak dapat dibedakan secara jelas dengan bagian empulur. Selain itu, ikatan pembuluh pada tumbuhan monokotil tersebar dalam empulur. Jumlah ikatan pembuluh dapat mencapai 200 buah dengan susunan kolateral. Pada penampang melintang batang, xilem tersusun menyerupai huruf V atau Y dan floem terletak pada lengan V atau Y. Pada dasar V atau Y terdapat bagian yang kosong, disebut rongga protoxilem. Bagian itu terbentuk akibat proses pertumbuhan memanjang dari batang sehingga xilem yang terbentuk lebih awal akan robek dan meninggalkan lubang.

Setiap ikatan pembuluh dikelilingi seludang berkas yang umumnya tebal, terutama pada ikatan pembuluh perifer (perifer = tepi). Pada beberapa tumbuhan monokotil, ikatan pembuluh tersebut tebal dan rapat sehingga seludang berkasnya hampir membentuk silinder yang sempurna, berhubungan dengan lapisan serat tipis di bawah epidermis. Pada beberapa tumbuhan monokotil yang berbentuk pohon terdapat pita perifer parenkim di luar daerah penyebaran ikatan pembuluh. Pada daerah korteks inilah terdapat

kambium sehingga batang tumbuhan tersebut mampu melakukan pertumbuhan menebal sekunder.

C. Struktur daun tumbuhan dikotil dan monokotil Susunan daun tumbuhan dikotil

Epidermis menutupi permukaan atas dan permukaan bawah daun yang dilanjutkan dengan epidermis batang. Pada beberapa jenis tumbuhan dikotil, misalnya oleander (Nerium oleander) mempunyai epidermis atas yang berlapis-lapis. Akan tetapi, ciri khas epidermis hanya lapisan terluarnya saja dan lapisan-lapisan sel di bawahnya berfungsi menampung air. Adanya lapisan lemak (kutin) pada sel-sel epidermis menimbulkan terbentuknya lapisan nonseluler yang tebal, yang disebut lapisan kutikula. Lapisan tersebut dapat mempertahankan kekakuan daun, selain melindungi daun dari penguapan yang berlebihan.

Mesofil merupakan daerah utama untuk berlangsungnya proses fotosintesis. Bagian tersebut tersusun dari jaringan parenkim longgar dan berklorofil. Umumnya dibedakan atas dua bagian, yaitu jaringan tiang (palisade) dan jaringan bunga karang (spons).

Jaringan tiang umumnya terdiri atas selapis sel, tetapi pada beberapa tumbuhan dikotil seperti bunga soka (Ixora sp.) memiliki beberapa lapis sel. Pada umumnya, jaringan tiang terdapat pada permukaan atas daun, seperti pada daun Nerium oleander, tetapi ada kalanya jaringan tersebut ditemukan pada kedua permukaan daun, seperti pada daun kayu putih (Eucalyptus sp.). Posisi jaringan tiang adalah tegak lurus dengan permukaan daun dan sel-sel penyusunnya penuh dengan kloroplas. Tidak ada bagian lain dari tubuh tumbuhan yang mengandung kloroplas sebanyak yang terdapat pada sel-sel jaringan tersebut.

Lapisan bunga karang terdiri atas sel-sel yang tersusun lepas, umumnya bercabang tidak beraturan dan saling berhubungan di ujung-ujung percabangan. Dengan susunan demikian menimbulkan Gambaran seperti bunga karang dengan sistem rongga antarsel yang intensif. Kloroplas yang dikandung tidak sebanyak yang terdapat pada sel-sel jaringan tiang.

Sistem pembuluh pada daun membentuk sistem percabangan jala yang kompleks pada bagian mesofil, tepatnya pada tempat-tempat pertemuan antara jaringan tiang dengan jaringan bunga karang. Masuknya jalur yang lebih besar menyebabkan mesofil menonjol keluar, terutama di permukaan bawah membentuk venasi daun

(pertulangan daun). Pada kebanyakan dikotil, venasi daun membentuk pertulangan menjala (Gambar 8.15).

(a) (b) Gambar 8.15. Pola venasi daun: a. menjala, b. sejajar. Susunan daun tumbuhan monokotil

Pada umumnya, daun tumbuhan monokotil tersusun dari satu lapis sel yang terdapat di permukaan bawah daun. Pada tempattempat tertentu di temukan stomata. Selain itu, pada daun tumbuhan monokotil khususnya Graminae (rumput-rumputan) terdapat sekumpulan sel-sel epidemis yang susunannya seperti kipas, disebut

sel bulliform (Gambar 8.16). Sumber: Biology of Plants 5th edition tahun 1992 Gambar 8.16. Penampang melintang daun monokotil.

Kelompok sel-sel ini tidak mempunyai lapisan kutikula sehingga dindingnya tipis. Sel-sel itulah yang berperan dalam penggulungan daun tumbuhan monokotil pada waktu udara kering. Dapatkah kalian menerangkannya? Diskusikanlah dengan teman atau kelompok

belajarmu. Jika tidak memperoleh jawaban yang pasti, dapat ditanyakan kepada guru biologimu!

Jaringan mesofil pada tumbuhan monokotil tidak berkembang sempurna seperti pada tumbuhan dikotil. Pada kebanyakan tumbuhan monokotil, venasi membentuk pertulangan sejajar. Pertulangan daun terpecah pada dasar daun atau sepanjang ibu tulang daun dan akhirnya bertemu lagi di ujung daun.

8.4. Transportasi pada tumbuhan Tumbuhan dapat membuat makanan sendiri melalui suatu proses yang disebut proses fotosintesis. Salah satu komponen alam yang dibutuhkan tumbuhan untuk proses tersebut adalah air. Air diperoleh tumbuhan dari dalam tanah. Melalui mekanisme tertentu air tersebut sampai ke daun, tempat biasanya berlangsung fotosintesis. Dapatkah kalian menerangkan mekanisme yang dimaksud?

Tumbuhan tingkat tinggi memerlukan air, karbondioksida, garamgaram mineral dan oksigen yang diambil dari lingkungan untuk fotosintesis. Pada tumbuhan tingkat tinggi, gas diangkut melalui proses difusi, tetapi air, garam-garam mineral, dan senyawa hasil fotosintesis diangkut melalui jaringan pembuluh atau jaringan vaskuler (Gambar 8.17 dan 8.18).

Pembuluh-pembuluh pengangkut berkelompok membentuk berkas ikatan pembuluh atau berkas pembuluh yang meluas ke seluruh organ tubuh, misalnya akar, batang, daun, dan bunga sehingga transportasi tumbuhan dapat berlangsung dengan cepat dan efisien.

Penyerapan zat-zat hara

Protista, fungi dan tumbuhan yang hidup di dalam air, seluruh permukaan tubuhnya bersentuhan dengan air sehingga air dapat langsung menyerap zar-zat yang diperlukan, baik berupa ion maupun gas. Tumbuhan yang hidup di darat mengambil zat-zat yang diperlukan dari lingkungannya, seperti air, garam mineral, karbon dioksida, dan oksigen melalui alat-alat khusus. Untuk pengambilan air dan garam mineral yang terlarut, dilakukan oleh rambut-rambut akar dan akar yang masih muda dengan dinding yang belum bergabus.

Gambar 8.17. Rute horizontal pengangkutan air dan garam mineral dari akar ke daun (Campbell, 2006).

Pengambilan zat-zat berupa gas dilakukan melalui alat khusus yaitu stomata. Stomata adalah celah yang dibatasi oleh dua sel penutup. Pada tumbuhan darat (terestrial) stomata banyak ditemukan pada permukaan daun sebelah bawah (sisi abaksial) sedangkan pada tumbuhan air (akuatik) banyak ditemukan pada permukaan daun sebelah atas (sisi adaksial).

Pada tumbuhan yang hidup di dalam air maupun yang di darat, proses pengambilan zat-zat yang diperlukan dilakukan melalui proses kimia dan biologi, yaitu imbibisi, difusi, osmosis dan transport aktif.

Gambar: 8.18. Rute vertikal pengangkutan air dan garam mineral dari akar ke daun (Campbell, 2006).

1. Imbibisi Imbibisi berasal dari bahasa latin, imbibire, yang berarti minum. Dalam hubungannya dengan pengambilan zat oleh tumbuhan imbibisi berarti kemampuan dinding sel dan plasma sel untuk menyerap air dari luar sel. Air yang terserap disebut air imbibisi. Pada peristiwa tersebut, molekul-molekul air terikat di antara molekul-molekul dinding sel atau plasma sel. Akibatnya plasma sel mengembang. Benda yang dapat mengadakan imbibisi dibedakan menjadi dua golongan berikut.

a. Benda yang pada waktu imibibisi mengembang dengan terbatas, artinya setelah mencapai volume tertentu tidak dapat 239

memembang lagi. Misalnya, kacang tanah yang direndam air akan mengembang sampai volume tertentu.

b. Benda yang pada waktu imbibisi mengembang dengan tidak terbatas, artinya bagian-bagian yang menyusunnya akhirnya terlepas dan bercampur air menjadi koloid dalam fase sol. Misalnya roti yang direndam air akan mengembang dan akhirnya hancur dan larut dalam air tersebut. 2. Difusi Difusi adalah pergerakan molekul-molekul zat dari daerah berkonsentrasi lebih tinggi (hipertonis) ke daerah berkonsentrasi lebih rendah (hipotonis). Misalnya, setetes tinta dimasukkan ke dalam gelas yang berisi air maka warna biru akan menyebar ke seluruh penjuru dan akhirnya warna biru merata ke seluruh air dalam gelas.

3. Osmosis Osmosis adalah perpindahan molekul-molekul air dari larutan berkonsentrasi rendah ke daerah berkonsentrasi tinggi atau dari daerah yang konsentrasi molekul-molekulnya airnya tinggi ke daerah yang konsentrasi molekul-molekul airnya rendah melalui selaput yang hanya dilalui oleh molekul air dan zat tertentu saja (selaput semipermiabel).

Permukaan air di dalam pipa corong naik disebabkan molekulmolekul air yang berpindah dari gelas kimia dan masuk ke dalam corong lebih tinggi dari pada di luar corong, sedangkan molekulmolekul gula tidak dapat keluar. Berdasarkan dapat tidaknya selaput dilalui oleh molekul zat, selaput dibedakan menjadi tiga macam, yaitu sebagai berikut:

a. Selaput permiabel, yaitu selaput yang dapat dilalui oleh molekul air dan zat yang larut di dalamnya. b. Selaput semipermiabel, yaitu selaput yang dapat dilalui molekulmolekul air dan zat tertentu saja sehingga disebut juga selaput permiabel selektif. c. Selaput impermiabel, yaitu selaput yang tidak dapat ditembus oleh air maupun zat yang terlarut. Sel tumbuhan memiliki ketiga macam selaput tersebut. Dinding sel yang berlapiskan gabus merupakan selaput impermiabel, sedangkan yang hanya mengandung selulosa bersifat permiabel. Di sebelah dalam dinding sel terdapat membran sel, pada sel hidup

bersifat semipermiabel atau permiabel selektif. Fungsi selaput tersebut mengatur pertukaran zat yang masuk dan keluar sel. Oleh karena itu, permiabilitasnya dapat berubah-ubah. Misalnya rambut akar juga dapat berubah.

Seorang ahli bernama Pfeffer berhasil membuat selaput semipermiabel dengan mencampur K4Fe(CN)6 dengan CuSO4 di dalam sebuah pot tanah yang berpori. Endapan Cu2 Fe(CN)6 yang terbentuk pada dinding sebelah dalam pot merupakan selaput semipermiabel, sedangkan dinding pot tanah itu sendiri bersifat permiable. Alat itu dikenal sebagai Pfeffer dan jika dihubungkan dengan manometer terbuka merupakan alat yang dapat mengukur tekanan osmosis suatu larutan dibandingkan dengan air. Alat itu dikenal sebagai Osmometer dari Pfeffer.

Sel Pfeffer diisi dengan larutan gula yang diukur tekanan osmosisnya kemudian dimasukkan dalam bejana yang berisi air. Konsentrasi larutan gula lebih besar dari pada air. Oleh sebab itu, larutan tersebut mempunyai kemampuan untuk menyerap air yang ada di sekitarnya. Besarnya tekanan yang ditimbulkan oleh daya isap larutan gula dapat dibaca pada manometer. Tekanan tersebut dinamakan tekanan osmosis. Suatu larutan yang mempunyai tekanan osmosis lebih besar daripada larutan lain disebut isotonis atau isosmostis. Sel-sel tumbuhan dapat digambarkan seperti keadaan sel Pfeffer, yaitu mempunyai daya isap dan tekanan osmosis yang dapat berubah-ubah. Pada waktu sel menyerap air, dinding sel akan menggembung dan mengalami kenaikan tekanan. Keadaan tegang yang timbul antara dinding sel dan isi sel karena sel menyerap air disebut turgor. Sel yang mempunyai tekanan turgor tertentu disebut turgesen. Tekanan isi sel pada dinding sel disebut tekanan turgor yang besarnya sama dengan tekanan dinding sel pada isi sel. Sel yang mempunyai turgesen mempunyai kekuatan tertentu. Jaringan yang terdiri atas sel-sel yang turgesen mempunyai kekuatan tertentu, disebut tegangan jaringan.

Tumbuhan yang kehilangan air, misalnya karena proses penguapan, akan kehilangan tegangan jaringan (layu). Jika sel berada pada larutan hipertonis terhadap cairan sel maka air akan keluar sel. Jika konsentrasi larutan di luar sel cukup tinggi maka sel akan kehilangan turgor, dinding sel tidak dapat mengerut lagi sehingga protoplasma akan lepas dari dinding sel. Peristiwa ini disebut plasmolisis.

4. Transport aktif Proses difusi dan osmosis yang telah dibahas adalah proses fisika, yaitu molekul-molekul atau ion-ion bergerak dari daerah yang

berkonsentrasi tinggi ke daerah yang berkonsentrasi rendah. Dalam proses biologi dapat terjadi sebaliknya, yaitu molekul-molekul atau ion-ion bergerak dari daerah yang berkonsentrasi rendah ke daerah yang berkonsentrasi tinggi. Pengangkutan zat seperti di atas memerlukan energi yang disebut transport aktif.

Proses transport aktif dapat berhenti jika berada pada suhu rendah (misalnya, 2-40C), ada racun atau kehabisan energi. Bagaimanakah proses transpor aktif berlangsung? Salah satu hipotesis menyatakan bahwa dalam selaput plasma terdapat carrier yang dapat mengantar molekul-molekul atau ion-ion di permukaan luar selaput plasma ke permukaan dalam selaput plasma. Setelah itu, carrier kembali ke permukaan luar dan mengulangi pekerjaannya.

Proses transpor aktif memerlukan energi yang didapat dari pemecahan ATP menjadi ADP atau ADP menjadi AMP. Selaput plasma tidak hanya mengontrol zat-zat yang masuk ke dalam sel, tetapi juga yang keluar sel. Misalnya, banyak sel yang menimbun kalium (K+), tetapi membuang natrium (Na+). Perlu diingat pula bahwa selaput plasma dapat melalukan suatu zat tertentu, tetapi tidak dapat bagi zat-zat lain. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa selaput plasma bukan pelindung sel yang pasif, melainkan batas antara isi sel dengan lingkungannya yang dinamis.

Pengangkutan air dan garam-garam mineral oleh tumbuhan

Air dan garam-garam mineral diserap oleh tumbuhan kemudian diangkut ke seluruh bagian tubuh tumbuhan, terutama ke daun.Pada tumbuhan transportasi berlangsung dengan dua cara, yaitu :

1. Pengangkutan ekstravaskuler Pengangkutan ekstravaskuler adalah pengangkutan air dan garam mineral di luar berkas pembuluh, berlangsung dari sel ke sel secara horizontal. Pengangkutan tersebut mulai dari rambut akar pada epidermis, parenkim korteks, endodermis, perisikel lalu ke pembuluh kayu. Proses pengangkutan dari epidermis ke sel-sel korteks berlangsung secara difusi dan osmosis. Begitu pula setelah sampai di daun. Di dalam daun, air keluar dari pembuluh kayu masuk ke dalam sel-sel mesofil. Reaksinya adalah:

Parenkim akar

Parenkim batang

mesofil daun osmosis, difusi osmosis, difusi

Dari hasil penelitian, nilai osmosis sel-sel korteks makin ke dalam makin tinggi. Dengan demikian, air dengan mudah mengalir dari luar ke dalam secara osmosis. Setelah sampai di endodermis, terjadi pengaturan pemasukan air karena dinding radial endodermis

mengalami penebalan dari gabus sehingga terbentuk lapisan gabus yang disebut pita Caspary. Oleh sebab itu, pemasukan air hanya melalui dinding transversal saja. Nilai osmosis sel endodermis ternyata lebih rendah daipada nilai osmosis sel korteks di sebelah luarnya. Meskipun demikian, endodermis dapat mendorong air masuk ke pusat silinder. Menurut Ursprung Nilai Osmosis Sel-sel Akar Kacang Babi (Vicia faba) dapat dilihat pada tabel 8.1 dibawah ini.

Tabel 8.1. Nilai osmosis beberapa sel

Sel yang diukur Nilai Osmosis (atm) Epidermis Lapis korteks 1 Lapis korteks 2 Lapis korteks 3 Lapis korteks 4 Lapis korteks 5 Endodermis Perisikel 0.1 1.4 1.5 2.1 2.8 3.0 1.7 0.8

2. Pengangkutan vaskuler Pengangkutan vaskuler adalah pengangkutan air dan garamgaram mineral melalui pembuluh pengangkut. Pengangkutan tersebut melalui pembuluh xilem dari akar ke batang, terus sampai ke daun. Pada beberapa tumbuhan, jarak pengangkutan tersebut cukup jauh. Misalnya, pada pohon Eucalyptus regnaus di Victoria dan Tasmania, serta Sequoia gigantea di California, tingginya dapat mencapai 100 meter.

Meski demikian, ujung-ujung pohon tetap mendapat air yang cukup dari akar. Untuk itu, diperlukan tenaga untuk pengangkutan. Transportasi vaskuler hanya ada pada Tracheophyta, dengan alur sebagai berikut: Parenkim akar

sel endodermis

trakea/trakeid

mesofil daun

osmosis, difusi energi loncatan, tekanan akar, endodermis daya isap daun, kohesi air pembuluh kapiler energi aktif

Transportasi zat anorganik vaskuler

Transportasi zat anorganik vaskuler diangkut melalui trakea dan trakeid yang terdapat pada xilem. Zat anorganik ini dapat mengalir di sepanjang pembuluh karena adanya: tekanan akar, daya isap daun, kohesi air dalam pembuluh kapiler dan terjadi secara aktif.

Zat anorganik yang dapat ditransportasikan mulai dari akar sampai mesofil daun dengan jalur sebagai berikut:

Tanah

rambut akar

parenkim akar (transportasi ekstravasikuler)

Imbisi, osmosis, difusi aktif

osmosis + difusi (transportasi vaskuler)

Pada mesofil daun sebagian air dikeluarkan supaya sel di atas selalu hipertonis terhadap sel yang ada di bawahnya, hingga transportasi dapat tetap berlangsung. Dari dalam daun, air dapat dikeluarkan dalam bentuk :

Uap air, prosesnya disebut transpirasi, apabila uap air itu keluar melalui stomata. Sedangkan evaporasi terjadi apabila uap air itu keluar melalui epidermis daun.

Tetesan air, prosesnya disebut gutasi, dimana air akan keluar melalui gutatoda = emisarium dengan energi tekanan akar. Gutasi terjadi pada saat udara lembab.

Transportasi zat organik

Karbohidrat hasil fotosintesis pada waktu siang hari disimpan sementara dalam bentuk amilum, malam hari diubah kembali menjadi glukosa lalu ditransportasikan ke seluruh tubuh. Beberapa tenaga pengangkutan air dipengaruhi oleh faktor berikut ini yaitu: tekanan akar, daya isap daun, daya kapilaritas, dan pengaruh sel-sel yang hidup.

a. Tekanan akar Adanya tekanan akar dapat diamati dengan memotong batang tanaman pisang kemudian bagian tengahnya dilubangi. Setelah satu hari maka akan terlihat air keluar dari permukaan potongan. Keluarnya air akibat adanya tekanan yang mendorong air ke atas disebut tekanan akar. Adanya tekanan akar dapat pula diamati pada tandan bunga enau atau kelapa yang dilukai sehingga keluar air gula yang dapat dibuat gula kelapa atau aren. Besarnya tekanan akar dapat diukur, rata-rata sekitar 0.7-2 atm (tabel 8.2).

Tabel 8.2.Tekanan Akar beberapa Jenis Tanaman

Jenis tanaman Tanaman akar (cmHg) Petuna hibrida Morus alba Ricinus communis Urtica dioca Vitis vinivera Betula alba Schirnolobium exelsum 0.7 1.2 33.4 46.2 90-100 139 600

b. Daya isap daun Daya isap daun terjadi sebagai akibat penguapan air di permukaan daun. Besarnya penguapan air bergantung pada luas permukaan daun. Makin luas permukaan daun makin besar daya isap daun. Pohon yang besar dengan jumlah daun yang banyak menyebabkan daya isap daun lebih besar dibandingkan pohon yang kecil dan daunnya sedikit. Daya isap daun mampu menaikkan air setinggi 100 meter, jauh lebih besar dibandingkan tekanan akar yang hanya mampu menaikkan air setinggi 18 meter (tabel 8.3).

Tabel 8.3. Daya isap daun pada Hedera helix

Jarak yang ditempuh Daya Isap Daun (atm) 2,.5 meter di atas tanah 4.2 0.35 meter di atas tanah 2.1 Akar tua di dalam tanah 2.1

c. Daya kapilaritas Pembuluh-pembuluh kayu merupakan pipa-pipa yang sangat kecil sehingga merupakan pipa kapiler. Pipa kapiler yang diameternya 10 mikron, dapat menaikkan air sampai setinggi 3 meter. Hal itu menyebabkan air naik dalam pembuluh kayu dari akar sampai ke daun. Bagi tumbuhan yang tinggi, daya kapilaritas tidak cukup untuk menaikkan air sampai ke daun.

d. Pengaruh sel-sel yang hidup Pembuluh-pembuluh kayu tersusun dari sel-sel yang mati, sekat di antara sel-selnya telah lenyap sehingga merupakan saluran untuk jalannya air dari akar ke ujung batang. Perjalanan di dalam pembuluh akan menentang gaya berat maupun gesekan dinding sel, tetapi pengangkutan air dapat terlaksana karena adanya sel-sel hidup, misalnya sel-sel parenkim dan sel jejari empulur.

a. Kecepatan pengangkutan air Dari hasil percoban, kecepatan pengangkutan pada berbagai macam tumbuhan tidak sama. Kecepatan pengangkutan dipengaruhi oleh beberapa faktor, sebagai berikut:

1. Faktor luar, banyaknya air dalam tanah (Tabel 8.4), suhu, angin, dan kelembaban udara. 2. Faktor dalam, banyaknya pembuluh kayu dan keaktifan sel-sel dalam akar, batang, dan daun. Tabel 8.4. Kecepatan Pengangkutan air pada beberapa tumbuhan

Tanaman Kecepatan pengangkutan air (cm/jam) Jagung Bunga matahari Pisang Tembakau Labu 36 63 100 118 600

b. Pengangkutan hasil fotosintesis Zat organik sebagai hasil fotosintesis yang di bentuk di dalam daun dan diangkut ke seluruh bagian tubuh yang memerlukan. Supaya zat-zat tersebut dapat diangkut, zat tersebut akan diuraikan terlebih dahulu oleh enzim menjadi zat yang dapat larut dan dapat keluar dari sel sampai ke ujung pembuluh tapis (floem) (Gambar 8.19).

Kemudian, zat-zat tersebut diangkut melalui pembuluh tapis ke seluruh bagian tubuh tumbuhan. Proses pengangkutan bahan organik pada pembuluh tapis disebut translokasi. Arah pengangkutannya dari atas ke bawah. Kecepatannya beberapa ratus kali kecepatan difusi. Misalnya, pada tumbuhan berkisar antara 0.5-1 meter per jam. Bagaimana mekanisme pengangkutan zat organik tersebut?

Ada beberapa pendapat mengenai pergerakan bahan organik di dalam floem, yaitu sebagai berikut:

1. Beberapa ahli fisiologi berpendapat bahwa suatu aliran materi (mass flow) di dalam floem terjadi sebagai akibat adanya tekanan turgor yang lebih tinggi pada ujung pembuluh tapis yang mengandung timbunan bahan cadangan gula yang dihasilkan oleh daun yang secara aktif disekresikan atau di pompa ke dalam pembuluh tapis oleh sel-sel parenkim sekelilingnya.

Gambar 8.19. Rute pengangkutan hasil fotosintesis (fotosintat). (Campbell, 2006).

2. Para ahli fisiologi lain meyatakan bahwa aliran sitoplasma memegang peranan penting dalam pengangkutan bahan dari satu sel ke sel yang lain dengan bantuan difusi melalui plasmodesmata, yaitu benang-benang sitoplasma yang menghubungkan sel yang berdampingan.

3. Pendapat lain adalah proses pengangkutan disebabkan ada difusi aktif, yaitu aktivitas metabolisme dari sel hidup untuk mempercepat proses difusi. Pendapat di atas ada benarnya dan ada pula kelemahannya karena belum ada bukti yang memuaskan. Namun demikian, hampir semua penemuan pada translokasi dianggap sebagai keterangan yan dapat diterima, meskipun masih perlu penelitian dan keterangan yang lebih lanjut.

Peristiwa translokasi dapat kita amati pada peristiwa mencangkok, yaitu dengan menyayat batang pada bagian floemnya, xilem dibiarkan utuh. Setelah beberapa lama akan terjadi penggembungan pada bagian yang di sayat karena ada timbunan bahan organik. Bagian bekas luka yang menggembung disebut kalus. Pada batang atau akar tumbuhan dikotil, jika mengalami luka maka akan ada usaha untuk memperbaiki bagian tesebut dengan pembentukan kalus dan dengan bantuan hormon luka atau kambium luka (asam traumalin). Translokasi dapat pula diamati pada pengeluaran getah pada proses penyadapan.

Pengeluaran oleh zat tumbuhan

Tumbuhan tidak hanya mengambil atau menyerap zat dari lingkungannya, tetapi juga mengeluarkan zat kembali ke lingkungannya yang disebut pengeluaran zat (eliminasi). Zat yang dikeluarkan pada eliminasi dapat dibedakan ke dalam tiga kelompok, yaitu:

1. Zat yang dikeluarkan sama dengan ketika diserap, misalnya air yang dikeluarkan pada peristiwa penguapan dan penetesan air. 2. Zat yang dikeluarkan sebagai hasil fotosintesis, misalnya madu yang dikeluarkan oleh kelenjar madu. 3. Zat yang dikeluarkan sebagai hasil proses pembakaran. Misalnya CO2 dan H2O dari proses pernapasan. 1. Transpirasi Transpirasi adalah pengeluaran air tumbuhan yang berbentuk uap air ke udara bebas. Besarnya penguapan dipengaruhi oleh faktorfaktor yakni suhu udara, luas daun, jumlah daun, jumlah stomata, tekanan udara, dan kelembaban. Transpirasi daun dibedakan sebagai berikut:

a. Transpirasi kutikula, yaitu penguapan melalui permukaan daun dengan menembus epidermis dan kutikula.

b. Transpirasi substomata, yaitu penguapan melalui stoma dalam keadaan tertutup. c. Transpirasi stomata, yaitu penguapan melalui stoma. 2. Penetesan (Gutasi) Gutasi adalah peristiwa pengeluaran air dalam bentuk tetes-tetes air melalui celah-celah yang terdapat pada tepi daun, disebut hidatoda atau gutatoda atau emisarium. Hal itu terjadi jika udara jenuh uap air tetapi penyerapan oleh akar sangat intensif.

3. Perdarahan Perdarahan adalah pengeluaran zat oleh tumbuhan ke lingkungannya melalui luka atau hal-hal lainnya yang tidak wajar. Misalnya, penyadapan pohon karet, dan pohon aren.

8.5. Pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan Untuk mempertahankan jenisnya, tumbuhan, hewan, dan manusia melakukan perkembangbiakan. Tumbuhan dapat menghasilkan spora atau biji sebagai alat pembiakan. Biji akan tumbuh menjadi tanaman baru yang kecil dan terus tumbuh menjadi besar sampai menjadi dewasa.

Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua hal yang selalu menandai suatu kehidupan. Namun, pertumbuhan dan perkembangan tidak terjadi begitu saja. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kedua kegiatan hidup tersebut. Faktor apa sajakah yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup?

Demikian juga hewan dan manusia menghasilkan sel telur yang akan dibuahi oleh sperma (spermatozoa) kemudian tumbuh menjadi zigot, embrio, lahir sebagai bayi, dan tumbuh menjadi dewasa. Bertambah besar dan tingginya badan tubuh hewan atau manusia disebabkan bertambah banyaknya sel, masa dari sel itu, maupun jenis sel-sel penyusun organ-organ yang dimiliki oleh hewan atau manusia itu. Sebuah sel yang disebut zigot akan membelah lalu mengalami diferensiasi menjadi berbagai jenis sel yang menyusun jaringan-jaringan tubuh makhluk hidup.

Perubahan yang terjadi pada tubuh tumbuhan, hewan, dan manusia meliputi perubahan secara kualitatif maupun kuantitatif yang disebut pertumbuhan dan perkembangan.

Pertumbuhan adalah peristiwa pertambahan volume yang mencakup pertambahan jumlah sel, volume sel, jenis sel, maupun

substansi yang terdapat di dalam sel dan bersifat irreversible (tak dapat kembali).

Perkembangan adalah suatu proses yang berjalan sejajar dengan pertumbuhan. Perkembangan dapat diartikan sebagai suatu proses menuju tercapainya kedewasaan, tidak dapat dinyatakan dengan ukuran-ukuran.

Jaringan meristem pada tumbuhan terdiri atas:

1.Titik tumbuh :

Terjadinya pada ujung akar dan ujung batang, menyebabkan tumbuhan meninggi atau memanjang, disebut pertumbuhan primer. Ada dua Teori titik tumbuh yaitu:

a. Teori Histogen dikemukakan oleh Hanstein. Titik tumbuh terdiri dari : -Dermatogen, yang akan menjadi epidermis -Periblem, yang akan menjadi korteks -Plerom, yang akan menjadi silinder pusat. b.Teori Tunika Korpus dikemukakan oleh Schmidt. Titik tumbuh terdiri dari : – Tunika, yang memperluas titik tumbuh.

-Korpus, yang menjadi jaringan-jaringan. 2.Kambium pembuluh (antara xilem dan floem).

Pada akar dan batang Dikotil dan Gymnospermae. Pada Monokotil hanya terdapat pada batang tumbuhan tertentu misalnya Agave dan Peomele. Kambium ini ke arah luar membentuk floem sekunder, ke arah dalam membentuk xilem sekunder dan ke arah samping tumbuh membentuk jaringan meristematis baru sehingga memperluas kambium. Kambium pembuluh meyebabkan pertumbuhan melebar, disebut pertumbuhan sekunder. Jaringan yang tidak bertambah pada pertumbuhan sekunder adalah jaringan epidermis. Aktivitas kambium pembuluh menyebabkan terbentuknya lingkar tahun, yaitu xilem yang dibentuk oleh kambium dari satu musim ke musim yang sama pada tahun berikutnya, dimana xilem yang dibentuk selama musim hujan mempunyai pembuluh yang lebar sedangkan yang dibentuk selama musim kemarau berpembuluh banyak tetapi diameter pembuluhnya sempit. Hal inilah yang menyebabkan terbentuknya lingkaran-lingkaran konsentris pada batang yang disebut lingkar tahun (Gambar 8.20). Bila ada pohon yang telah ditebang, dapatkah kalian menentukan umur pohon tersebut dengan mengamati penampang melintangnya?

Gambar 8.20. Anatomi batang pohon(Campbell, 1997).

3. Kambium gabus (felogen). Kambium ini terbentuk pada permukaan luar organ tumbuhan yang epidermisnya pecah akibat pertumbuhan sekunder. Kambium ini ke arah luar membentuk sel gabus (felem) pengganti epidermis yang pecah untuk menutupi permukaan. Karena sel gabus tidak dapat di tembus udara, maka antar sel gabus terdapat celah/lubang untuk masuknya udara yang disebut lenti sel. Kambium gabus ke arah dalam membuat sel feloderm yang hidup, karena itu kambium gabus disebut kambium felogen.

4. Perisikel (perikambium) Jaringan yang membentuk cabang-cabang akar maupun batang. Pada akar terletak pada permukaan silinder pusat (eksogen) dan pada batang sebelah dalam silinder pusat (endogen).

5. Parenkim batang beberapa Monokotil ada yang bersifat meristematis, seperti parenkim batang pohon palem raja. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan:

1. Faktor intraseluler : faktor intraseluler yang mempengaruhi pertumbuhan adalah gen (= faktor hereditas) 2. Faktor interseluler : hormon. Tumbuhan bertambah tinggi dan besar karena kegiatan titik tumbuh primer (pada ujung akar dan batang) yang menyebabkan

bertambah tingginya tumbuhan dan kegiatan titik tumbuh sekunder (kambium) yang menyebabkan bertambah besarnya tumbuhan.

Pertumbuhan pada tumbuhan dimulai dengan pembelahan sel, pemanjangan dan diferensiasi sel yang terjadi pada daerah titik tumbuh. Ujung batang dan ujung akar tumbuhan merupakan titik tumbuh primer, sedangkan kambium merupakan daerah titik tumbuh sekunder. Kecepatan pertumbuhan ujung batang dan akar di tiap-tiap bagian tidak sama. Hal itu disebabkan pada daerah titik tumbuh terdapat tiga daerah pertumbuhan dan perkembangan, yaitu:

a. daerah pembelahan, terletak paling ujung, b. daerah pemanjangan, terletak di bawah daerah pembelahan, c. daerah diferensiasi, merupakan daerah yang sel-selnya telah mengalami spesifikasi dan terletak paling belakang pada daerah titik tumbuh. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan

Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu faktor intraseluler (hereditas/gen) dan faktor interseluler yaitu makanan (nutrisi), gen, lingkungan, dan zat tubuh (hormon).

a. Nutrisi (makanan) Tumbuhan yang diberi pupuk akan tumbuh lebih baik dan lebih cepat dibandingkan dengan tumbuhan yang tidak diberi pupuk. Hal itu membuktikan zat makanan (pupuk) mempengaruhi pertumbuhan tumbuhan (Gambar 8.21)

Gambar 8.21. Perbedaan pertumbuhan pada tanaman jagung. Tanaman yang tercukupi unsur nitrogennya (kiri), defisiensi unsur nitrogen (kanan) (Campbell, 2006).

.

Pengaruh pemberian nutrisi pada tumbuhan juga dapat dilihat pada penanaman dengan cara hidroponik. Medium tanaman diberi larutan nutrisi yang sesuai dengan jenis tanaman yang ditanam, akan membuat tanaman tumbuh, berkembang, dan bertambah besar. Contoh nutrisi yang diperlukan tumbuhan dapat dilihat Tabel 8.5. berikut ini.

Tabel 8.5. Nutrisi yang dibutuhkan tumbuhan

Unsur Bentuk digunakan tumbuhan Fungsi Mikro Oksigen O2, H2O Pembentuk zat organik Karbon CO2 Pembentuk zat organik Hidrogen H2O Pembentuk zat organik Nitrogen NO3-,NH4+ Pembentuk asam inti Kalium K+ Bentuk protein, osmosis, membuka/menutup stomata Kalsium Ca2+ Stabilitas dinding sel Magnesium Mg2+ Komponen klorofil, aktivasi enzim Fosfor H2PO4, HPO4 2Komponen asam inti, ATP, koenzim Sulfur SO4 2Komponen protein dan koenzim Makro Klor Cl-Aktivasi fotosintesis dan air Besi Fe3+,Fe2+ Aktivasi enzim Boron H3BO3 Transportasi KH & asam inti Mangan Mn2+ Pembentukan asam amino Seng Zn2+ Pembentukan klorofil & enzim Tembaga Cu+, Cu2+ Enzim reduksi oksidasi Molibdenum Mo4Pengikatan nitrogen

a b

c d

Gambar 8.22. Kondisi daun. (a) daun normal, (b) defisiensi nitrogen,

(c) defisiensi fosfat, (d) defisiensi potasium (Campbell, 2006). b. Gen Gen adalah faktor pembawa sifat yang dimiliki oleh semua jenis makhluk hidup, baik tumbuhan maupun hewan. Kalau kita mengambil dua kelompok biji kacang, kelompok yang pertama bijinya besarbesar, sedangkan kelompok yang ke dua bijinya kecil-kecil, keduanya lalu ditanam pada kondisi tanah yag sama maka biji kacang yang besar-besar diharapkan akan tumbuh lebih baik daripada biji kacang yang kecil-kecil. Hal ini disebabkan karena faktor pembawa sifat yang terkandung dalam biji kacang yang besar berbeda dengan yang dikandung oleh biji kacang yang kecil.

c. Lingkungan Lingkungan yang berada di sekitar tumbuhan dapat berupa suhu, cahaya atau sinar, air dan kelembaban.

1). Suhu

Tumbuhan dapat tumbuh baik jika berada dalam suhu yang optimum. Tumbuhan di daerah tropis mempunyai suhu optimum antara 22-27 0C. Suhu terendah yang memungkinkan tumbuhan masih dapat hidup disebut suhu minimum, sedangkan suhu maksimum merupakan suhu tertinggi yang memungkinkan tumbuhan

masih dapat hidup. Suhu minimum maupun suhu maksimum dari berbagai jenis tumbuhan berbeda-beda. Pada tumbuhan tropis, suhu minimumnya sekitar 100C, sedangkan tumbuhan yang hidup di daerah dingin mempunyai suhu minimum sekitar 50C.

2). Cahaya

Pada tumbuhan hijau, cahaya memang sangat diperlukan untuk keperluan fotosintesis, tetapi terhadap pertumbuhan, cahaya bersifat menghambat. Mengapa demikian?

Sebenarnya pada daerah pertumbuhan terdapat zat tumbuh yang disebut auksin. Auksin berfungsi merangsang pembelahan sel untuk memperpanjang tubuh tumbuhan. Jika terkena sinar matahari, auksin akan terurai atau berubah menjadi zat lain sehingga di daerah pertumbuhan tidak ada yang mempengaruhi untuk pembelahan selselnya, akibatnya pertumbuhan terhambat.

Sebagai bukti adalah jika ada dua macam kecambah (tanaman muda), yang satu dibiarkan terkena sinar matahari dan yang lainnya ditutup rapat agar tidak terkena sinar matahari maka tanaman yang tidak terkena sinar matahari atau sedikit menyerap cahaya matahari tidak akan mati akan tetapi tanaman akan menderita etiolasi, batangnya lemas karena defisiensi sinar matahari.

3). Air atau kelembaban Air sangat diperlukan oleh tanaman untuk pertumbuhan. Contohnya:

a). Jika ada dua tanaman dalam pot, yang satu disiram dengan air dan yang lainnya tidak maka tanaman yang sering disiram akan tumbuh dengan baik. Tetapi perlu diketahui bahwa tanaman memerlukan air hanya pada batas tertentu saja. Pada jenis tanaman tertentu kelebihan air dapat mengakibatkan kematiannya. Coba cari contoh tanaman tersebut!

b). Biji-bijian jika berkecambah (tumbuh) juga memerlukan air, bahkan ada beberapa tanaman menggunakan air sebagai media pertumbuhan seperti tanaman Nymphea sp (Gambar 8.24). Coba kalian letakkan beberapa biji kedelai pada kapas yang kering. Amatilah apa yang akan terjadi setelah tiga hari? Apakah yang dapat kalian simpulkan dari kegiatan tersebut?

Gambar 8.23. Air sebagai media pertumbuhan.

d. Zat tumbuh (hormon) Ada beberapa zat tumbuh (hormon) pada tumbuhan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan organ-organ tertentu. Zat tumbuh tersebut, antara lain auksin, giberelin, sitokinin, dan kalin.

1). Auksin

Auksin merupakan senyawa indol asetat maupun turunannya, ditemukan di ujung tumbuhan yang sedang memanjang. Auksin banyak ditemukan pada ujung koleoptil (tudung pembungkus tunas) dari tumbuhan gandum (Avena sativa). Fungsi auksin, yaitu:

a. merangsang perpanjangan sel. b. merangsang titik tumbuh, c. merangsang pembentukan buah tanpa adanya penyerbukan yang dinamakan partenokarpi. Contohnya: pisang. d. membengkokan batang, e. merangsang perkembangan akar lateral dan akar serabut. f. merangsang pembelahan kambium pembuluh. g. menyebabkan diferensiasi sel menjadi xilem. h. meningkatkan perkembangan bunga dan buah. i. dominasi apikal (menghambat pertumbuhan kuncup samping/ketiak). Pembelokan yang terjadi pada pertumbuhan tanaman yang terkena sinar pada satu sisinya, disebabkan karena auksin di bagian yang terkena sinar matahari mengalami penguraian sehingga pertumbuhan pada bagian tersebut terhambat.

Sebaliknya, auksin pada sisi yang tidak terkena sinar tetap bekerja normal. Kecepatan pembelahan yang tidak sama antar kedua sisi tanaman tersebut menyebabkan tanaman membelok ke arah sinar (Gambar 8.24).

Gambar 8.24. Peranan auksin berperan pada fototropisme (Campbell, 2006).

Auksin dengan konsentrasi tinggi merangsang pertumbuhan batang, tapi menghambat pertumbuhan akar. Auksin menjauhi sinar matahari. Hormon auksin yang diisolasi dari tumbuhan adalah Indol Asam Asetat (IAA). Auksin sintetik adalah 2.4 D, dalam konsentrasi tertentu tidak berpengaruh pada golongan Graminae tetapi dapat mematikan tumbuhan lain.

Auksin juga dapat menyebabkan tumbuhan membentuk lapisan absisi yang menyebabkan buah dapat tumbuh sampai masak dan dapat merangsang perkembangan buah tanpa biji (tanpa fertilisasi).

2). Giberelin

Giberelin ditemukan pada Giberella fujikuroi (sejenis jamur parasit pada tanaman padi). Fungsi giberelin adalah untuk :

a. merangsang aktivitas kambium. b. menyebabkan tanaman lebih cepat berbunga. c. memperbesar ukuran buah dan tanaman (Gambar 8.25). d. mempengaruhi perkembangan embrio. e. menghambat pembentukan biji. f. merangsang pembentukan saluran serbuk sari dan pembentukan bunga. 257

g. mematahkan dormansi biji dan kuncup samping/aksiler. Gambar 8.25. Pengaruh giberelin terhadap pertumbuhan buah. (Campbell, 2006).

3). Sitokinin Sitokinin berfungsi untuk :

a. merangsang pembelahan sel dengan cepat. b. merangsang daerah pucuk untuk tumbuh ke samping. c. merangsang pelebaran daun (Gambar 8.26). d. memperkecil dominansi apikal. e. mengatur pembentukan bunga dan buah. f. menunda pengguguran daun, bunga, dan buah dengan meningkatkan transpor makanan ke organ tersebut. Gambar 8.26. Pengaruh sitokinin terhadap pelebaran daun.

4). Kalin

Tumbuhan juga mempunyai hormon seperti pada hewan yang fungsinya merangsang pertumbuhan dari organ-organ tertentu, disebut kalin.

Berdasarkan organ yang dipengaruhinya, dibedakan menjadi:

a. kaulokalin, fungsinya merangsang pertumbuhan batang.

b. rhizokalin, fungsinya merangsang pertumbuhan akar (rhizokalin identik dengan vitamin B1). c. fitokalin, fungsinya merangsang pertumbuhan daun (folium). d. anthokalin, fungsinya merangsang pertumbuhan bunga. e. asam traumalin, fungsinya merangsang pertumbuhan kalus pada batang dikotil yang dilukai. f. Asam absisat, fungsinya menghambat pertumbuhan bila kondisi buruk sehingga tanaman berada dalam keadaan dorman. Pemanfaatan zat tumbuh (hormon) dalam bidang pertanian

Dalam bidang pertanian, zat tumbuh (hormon) dapat dimanfaatkan, misalnya untuk merangsang pertumbuhan batang dan akar, perkembangan tanaman, dan kecepatan pembentukan buah. Auksin dihasilkan di dalam daun di tempat terjadinya pertumbuhan. Selain menumbuhkan, auksin juga berperan dalam mengatur tanggapan pertumbuhan mengikuti cahaya dan gaya berat. Dr.F.W.Went pernah meneliti pengaruh auksin terhadap pertumbuhan Avena (gandum) sehingga menghasilkan gandum yang lebih banyak.

Hormon pada tumbuhan dapat pula berfungsi mengatur gugurnya daun dan buah. Para ilmuwan telah menemukan bahwa penyemprotan auksin pada sisi tertentu tanaman apel dapat mencegah kerontokan buah sebelum waktunya. Penyemprotan zat anti auksin pada tanaman kapas dapat merontokkan daun sehingga mempermudah pemetikan kapas.

8.6. Gerak pada tumbuhan Gerak pada tumbuhan tingkat tinggi bukan berarti pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, akan tetapi sebenarnya berupa pembengkokan bagian tumbuhan akibat pertumbuhan yang tidak seimbang atau akibat turgor jaringan yang tidak sama.

Gerakan pada tumbuhan dapat dibedakan berdasarkan bagian yang bergerak dan faktor-faktor yang mempengaruhi gerakan tersebut. Macam gerak tersebut adalah gerak higroskopis, gerak endonom, dan gerak esionom.

1. Gerak higroskopis Gerak higroskopis adalah gerak karena perbedaan kadar air yang tidak merata pada bagian tubuh tumbuhan. Gerak tersebut dijumpai pada pecahnya kulit buah polong, membuka dan menutupnya annulus pada sporangium paku, serta membuka dan menutupnya gigi peristom pada sporangium lumut. Jika buah polong, misalnya buah bunga merak (Caesalpinia pulcherima) terkena sinar matahari, maka bagian yang kena sinar akan kehilangan air lebih banyak,

mengakibatkan terjadi perbedaan kadar air pada kedua sisi buah polong-polongan tersebut.

Perbedaan kadar air tersebut menyebabkan mengembang dan mengerutnya kulit buah menjadi tidak seimbang. Akibatnya, sisi yang ikatannya kurang kuat akan pecah mendadak. Biji yang ada di dalamnya akan melenting.

2. Gerak endonom Gerak endonom adalah gerak bagian tubuh tumbuhan yang disebabkan oleh rangsangan dari dalam. Jenis rangsangan juga belum jelas sehingga ada pakar yang menyebutkan gerakan tersebut terjadi karena kemauan tumbuhan maka sering disebut gerak otonom. Contoh gerak endonom, antara lain gerak sitoplasma pada sel umbi lapis bawang merah, gerak melingkar batang gadung (Dioscorea sp.), palmae, maupun batang kacang panjang. Ujung batang gadung akan selalu melilit batang rambatannya ke arah kiri, sedangkan ujung batang kacang panjang akan melilit ke arah kanan. Mengapa demikian?

3. Gerak esionom Gerak esionom adalah gerak berupa reaksi terhadap rangsang dari luar. Rangasangan itu dapat berupa cahaya, gravitasi bumi, sentuhan, senyawa kimia, dan air. Gerak esionom dibedakan menjadi tiga, yaitu nasti, tropisme, dan taksis.

I. Nasti a. Niktinasti Niktinasti adalah gerak menutupnya daun pada banyak spesies Leguminoceae ketika malam hari. Pada sebagian besar peristiwa niktinasti, permukaan daun ada pada posisi horizontal dan menghadap ke matahari sepanjang hari, tetapi melipat dalam posisi vertikal jika matahari terbenam (Gambar 8.27). Jadi, terjadinya periode yang berselang antara terang dan gelap itulah yang mengatur gerakan tersebut.

Gambar 8.27. Gerak niktinasti pada Leguminoceae.

Gerak niktinasti terjadi karena perubahan turgor suatu jaringan yang memiliki struktur khusus pada persendian tangkai daun (pulvinus). Jaringan tersebut tersusun dari sel-sel khusus (sel motor) yang berfungsi sebagai pemompa ion K+ dari satu bagian ke bagian lainnya. Dengan demikian akan mengubah potensial air pada sel-sel tertentu. Pada pohon ki hujan (Samanea saman) anak-anak daunnya menggantung pada malam hari, gerakan ke atas anak daun pada pagi hari disebabkan oleh peningkatan turgor pada sel motor ventral dan penurunan turgor pada sel motor dorsal. Perubahan yang sebaliknya terjadi ketika anak daun melipat dan menggantung pada waktu matahari terbenam. Jika ion K+ dipompa keluar dari sel-sel pulvinus maka akan diikuti mengalirnya air keluar dari sel-selitu. Hal itu menyebabkan turunnya tekanan turgor pada jaringan pulvinus di jaringan persendian daun sehingga tangkai daun menuju kebawah dan terjadilah gerak tidur.

b. Seismonasti Seismonasti adalah gerak menutupnya daun yang disebabkan oleh sentuhan (Gambar 8.28). Mekanisme dari gerak tersebut disebabkan oleh perubahan turgor pada pulvinus, sama seperti prinsip gerak tidur (niktinasti). Untuk lebih jelasnya, lakukanlah pengamatan gerak seismonasti pada si kejut (Mimosa pudica). Bagaimanakah pola gerakannya?

c. Fotonasti Fotonasti adalah gerak nasti karena rangsangan cahaya, misalnya membukanya bunga pukul empat (Mirabilis jalapa) pada sore hari. Sebenarnya tidak semata-mata cahaya, tetapi ada faktor lain yang ikut berpengaruh terhadap membuka dan menutupnya bunga tersebut, seperti suhu maupun kelembaban udara.

Gambar 8.28. Gerak seismonasti pada Mimosa pudica(Campbell, 1997).

d. Termonasti Termonasti adalah gerak nasti karena rangsang suhu, misalnya bunga tulip (di daerah dingin) yang membuka karena pengaruh temperatur. Bunga tersebut akan mengembang jika mendadak mengalami kenaikan temperatur dan akan menutup lagi jika temperatur menurun.

e. Gerak kompleks Gerak kompleks adalah gerak nasti yang terjadi karena berbagai faktor rangsangan yang bekerja sama. Berbagai rangsangan tersebut, antara lain zat kimia, suhu, cahaya, dan air. Proses membukanya stomata daun pada siang hari dan menutup di malam hari merupakan contoh dari gerak tersebut.

II. Tropisme Tropisme ialah gerak tumbuh bagian tubuh tumbuhan dengan arah gerak yang ditentukan oleh arah datangnya rangsang. Jika arah gerak mendekati sumber rangsangan, disebut tropisme positif. Sebaliknya, jika menjauhi rangsangan disebut tropisme negatif. Berdasarkan cara perangsangannya, gerak tropisme dapat dibedakan menjadi gerak fototropi, geotropi, tigmotropi, dan hidrotropi.

a. Fototropisme Fototropisme adalah gerak tumbuh bagian tubuh tumbuhan karena rangsangan cahaya. Hal itu dapat kita lihat pada tanaman pot yang kita letakkan dekat jendela, dimana cahaya hanya datang dari satu sisi (Gambar 8.24).

Dapatkah kalian menduga apa yang akan terjadi pada pertumbuhan batang tersebut? Fototropisme dapat dibedakan menjadi fototropisme positif dan fototropisme negatif. Gerak tumbuh ujung batang menuju ke arah datangnya cahaya adalah contoh gerak

fototropisme positif, sedangkan gerak pertumbuhan akar menjauhi sumber cahaya disebut fototropisme negatif.

Orang pertama yang melakukan eksperimen untuk mempelajari pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan batang adalah Charles Darwin, biolog Inggris yang amat terkenal dalam mempelajari evolusi. Percobaan lain untuk menyelidiki gerak fototropi adalah dengan menggunakan klinostat! Tumbuhan yang ditempatkan pada klinostat diletakkan mendatar dan diputar secara perlahan-lahan sehingga bagian tumbuhan tersebut mendapat cahaya secara merata. Akibatnya, batang dan akar tumbuhan itu tetap mendatar. Mengapa demikian? Dapatkah kalian meramalkan apa yang akan terjadi jika pemutaran dihentikan? Mengapa hal itu terjadi?

b. Geotropisme Geotropisme adalah gerak bagian tumbuhan menuju ke pusat bumi karena rangsangan gaya gravitasi bumi. Gerak tersebut juga dapat dibedakan menjadi gerak geotropisme positif dan geotropisme negatif. Contoh gerak geotropisme positif adalah gerak pertumbuhan akar menuju ke arah pusat bumi. Perhatikan Gambar 8.29! Ke manakah arah pertumbuhan batang dan akar tumbuhan tersebut? Mengapa demikian?

Gambar 8.29. Gerak geotropisme akar (Campbell, 2006).

c. Tigmotropisme (haptotropisme) Tigmotropisme atau haptotropisme adalah gerak membelok bagian tubuh tumbuhan sebagai akibat dari sentuhan atau persinggungan (Gambar 8.30). Contohnya adalah gerak ujung batang atau ujung sulur pada famili Cucurbitaceae, misalnya mentimun dan markisa (Passiflora quadrangularis). Jika ujung sulur menyentuh ranting atau batang tumbuhan lain pada sisi kirinya maka sulur akan membelok melilit ke arah kiri. Jika tidak tersentuh, ujung sulur akan

tumbuh lurus. Jika tersentuh pada sisi kanannya maka ujung sulur akan melilit memutar ke kanan.

Gambar 8.30. Gerak tigmotropisme.

d. Hidrotropisme Hidrotropisme adalah gerak bagian tubuh tumbuhan menuju ke tempat yang lembab atau karena rangsang air. Arah gerak pertumbuhan akar menuju lapisan tanah yang cukup air juga merupakan contoh gerak tersebut

e. Kemotropisme Kemotropisme adalah gerak bagian tubuh tumbuhan karena rangsangan zat kimia. Misalnya gerak tabung sari menuju tempat pembentukan sel telur, gerak ujung akar menuju ke lapisan tanah yang kaya unsur hara, dan gerak akar napas menuju ke tempat yang cukup O2 (Gambar 8.31).

Gambar 8.31. Gerak kemotropisme pteridophyta.

III. Taksis a. Fototaksis Fototaksis adalah gerak yang disebabkan oleh cahaya. Contoh gerak tersebut adalah gerakan Euglena menuju ke tempat yang bercahaya dan gerakan pemencaran spora dari sporangium jamur Pilobolus sp.

b. Kemotaksis Kemotaksis adalah gerak yang disebabkan oleh rangsangan zat kimia. Contoh gerak tersebut adalah gerakan spermatozoid ke arah sukrosa atau asam maleat pada arkegonium tumbuhan lumut atau paku dan gerakan bakteri aerob menuju ke tempat yang banyak O2.

8.7. Reproduksi pada tumbuhan Gambar 8.32. Struktur bunga (Campbell, 2006).

Reproduksi (re = ulang, produksi = hasil), mengandung arti perkembangbiakan. Dispersal, artinya pemencaran alat-alat perkembangbiakan. Untuk melestarikan jenisnya, (kelangsungan hidup dan proses mempertahankan jenis) tumbuhan mengadakan perkembangbiakan dengan cara yang berbeda-beda menurut jenisnya masing-masing. Alat perkembangbiakan pada tumbuhan lengkap seperti Gambar 8.32. Perkembangbiakan pada umumnya dibedakan dalam dua cara berikut ini:

1. Perkembangbiakan aseksual 2. Perkembangbiakan seksual 1.Perkembangbiakan aseksual (vegetatif)

Reproduksi aseksual (vegetatif) yaitu terjadinya calon individu baru tanpa peleburan gamet jantan dan gamet betina.

Perkembangbiakan vegetatif berdasarkan ada tidaknya campur tangan manusia dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:

a. Vegetatif alamiah, pada perkembangbiakan ini calon individu baru terjadi tanpa peleburan 2 buah gamet dan tanpa campur tangan manusia. Misalnya: * Pembelahan sel, seperti pada Amoeba proteus, Chlorophyceae, dan bakteri. * Pembentukan spora (sel terspesialisasi bereproduksi vegetatif dan spora terbentuk dari peleburan dua sel dilakukan secara generatif), seperti jamur (fungi). * Fragmentasi (melepaskan sejumlah sel disebut homogonium), seperti Cyanophyceae, dan Liken. * Pembentukan tunas/anakan, seperti bambu dan pisang. * Tunas adventif, seperti cocor bebek. * Rizoma = rimpang (batang yang tumbuh sejajar di bawah permukaan tanah), seperti alang-alang. * Kormofita, seperti mangga, durian, dan sawo manila. * Umbi lapis, seperti bawang merah (Allium cepa). * Umbi batang, seperti kentang. * Umbi akar, seperti ubi kayu. * Geragih atau stolon (batang yang tumbuh menjalar di atas permukaan tanah), seperti lengkuas, dan jahe. b. Vegetatif buatan, merupakan perkembangbiakan dengan bantuan campur tangan manusia. Misalnya: mencangkok, menempel (okulasi), menyambung, merunduk, mengenten, dan stek. Keuntungannya ialah mendapatkan tanaman sesuai dengan sifat induknya dan cepat menghasilkan buah. Sedangkan kerugiannya ialah tumbuhan tidak kokoh dan tidak tahan hidup lama. 2. Perkembangbiakan seksual (generatif) Generatif (seksual), yaitu terjadinya calon individu baru didahului dengan peleburan sepasang gamet. Reproduksi generatif dapat berlangsung dengan cara:

* Konyugasi (peleburan dua sel yang belum terspesialisasi disebut zygospora). Contoh: Chlorophyta. * Fertilisasi (peleburan sepasang gamet membentuk zigot). Contoh: Chrysophyta * Partenogenesis (ovum tidak dibuahi, dapat menjadi individu baru). Contoh: Spermatophyta.

* Metagenesis (pergiliran keturunan dimana reproduksi vegetatif bergantian dengan generatif). Contoh: Cormophyta. Pada tumbuhan berbiji, pembuahan didahului oleh peristiwa penyerbukan atau persarian. Penyerbukan terjadi apabila serbuk sari sampai pada tempat tujuannya. Pada Gymnospermae, serbuk sari sampai di tetes penyerbukan pada bakal biji dan pada Angiospermae terjadi bila serbuk sari sampai di kepala putik.

Berhubungan dengan peristiwa penyerbukan dan pembuahan ini maka tumbuhan berbiji memiliki alat penyerbukan yaitu serbuk sari dan kepala putik. Serbuk sari/tepung sari terdapat pada benang sari, kepala putik terdapat pada putik

I. Macam-macam penyerbukan (Polinasi) Polinasi (penyerbukan) adalah jatuhnya serbuk sari yang berisi sperma ke tempat bakal biji yang berovum. Polinasi hanya terdapat pada tumbuhan yang mempunyai serbuk sari dan bakal biji, yaitu pada Angiospermae dan Gymnospermae.

Penyerbukan dibagi berdasarkan:

a. Asal serbuk sari, yaitu: 1. Penyerbukan sendiri (autogami), yaitu serbuk sari berasal dari bunga yang sama. Kalau penyerbukan terjadi selagi bunga belum mekar disebut kleistogami. 2. Penyerbukan tetangga (geitonogami), yaitu serbuk sari berasal dari bunga lain pada satu individu. 3. Penyerbukan silang (alogami), yaitu serbuk sari berasal dari individu lain yang spesiesnya sama. 4. Penyerbukan bastar, yaitu serbuk sari berasal dari bunga tumbuhan yang berbeda spesies. b. Faktor yang menyebabkan serbuk sari sampai di tempat tujuan (dengan perantara), dibedakan atas: 1. Penyerbukan dengan bantuan angin (anemogami) Ciri-ciri tumbuhannya ialah memiliki serbuk sari yang banyak, lembut, kering dan warna mahkota tidak perlu menarik perhiasan bunganya tidak ada dan kalau ada hanya kecil, sederhana dan ringan. Misalnya: pada padi-padian dan berbagai jenis rumputrumputan. 2. Dibantu oleh air (hidrogami), misalnya terjadi pada Hydrilla sp.

3. Dibantu oleh hewan (zoidogami) dibedakan atas: a. Penyerbukan dengan bantuan serangga (entomogami). Ciri tumbuhannya: memiliki mahkota yang menarik (berwarna warni), menghasilkan madu, atau serbuk sari.

b. Penyerbukan dengan bantuan burung (ornitogami) Ciri tumbuhannya: bunganya mengandung banyak madu, berukuran besar.

c. Penyerbukan dengan bantuan kelelawar (kiropterogami). Ciri tumbuhannya: bunganya mekar pada malam hari. d. Penyerbukan siput (malakogami) Terjadi pada tumbuhan yang sering mendapat kunjungan dari siput.

4. Dibantu oleh manusia (antropogami), karena di alam tidak ada perantara yang cocok dalam proses penyerbukannya, misalnya pada tumbuhan vanilli. Faktor-faktor yang menyebabkan tumbuhan tidak dapat mengadakan penyerbukan sendiri (autogami) adalah: (i) Dioseus (berumah dua), yaitu serbuk sari dan putik terletak pada individu yang berbeda. Contoh: salak, melinjo. (ii) Dikogami, yaitu masaknya serbuk sari dan putik tidak bersamaan, dapat dibedakan atas: a. Protogini, yaitu putik matang lebih dulu. Contoh: cokelat, alpokat. b. Protandri, yaitu serbuk sari suatu bunga masak lebih dulu. Contoh: jagung. c. Herkogami, yaitu serbuk sari tidak dapat jatuh ke kepala putik (vanili). d. Heterostili Yang terjadi pada serbuk sari setelah penyerbukan :

• Eksin pecah, serbuk sari membentuk buluh serbuk dan di dalamnya mengandung dua inti yaitu inti tabung dan inti generatif. Inti generatif membelah menghasilkan dua inti sperma. Buluh serbuk memanjang menuju mikropil.

• Sinergid membantu inti sperma memasuki bakal biji melalui mikropil. • Dalam bakal biji satu inti sperma melebur dengan ovum, hasilnya adalah zigot diploid. Inti sperma lainnya melebur dengan dua inti kutub membentuk inti triploid yang akan berkembang menjadi endosperm = tempat makanan cadangan untuk lembaga ( fertilisasi ganda pada Angiospermae). Pada Gymnospermae semua inti sperma melebur dengan ovum (fertilisasi tunggal). Cara masuknya inti sperma ke dalam bakal biji dibedakan menjadi:

• Porogami : bila inti sperma masuk melalui mikropil • Aporogami: bila inti sperma masuk tidak melalui mikropil, misalnya melalui kalaza disebut Kalazogami. Cara terbentuknya lembaga (bakal tumbuhan baru) dilakukan dengan:

• Amfiksis, bila lembaga berasal dari hasil peleburan ovum dan sperma. • Apomiksis, bila lembaga bukan berasal dari hasil peleburan ovum dan sperma. Apomiksis dapat terjadi secara :

• Partenogenesis, embrio berasal dari ovum yang tidak dibuahi. • Apogami, embrio berasal dari bagian lain dari luar kandung lembaga tanpa dibuahi misalnya dari sinergid. • Embrionik adventif, embrio berasal dari sel di luar bakal biji tanpa dibuahi. Apomiksis dapat menyebabkan terbentuknya lebih dari satu embrio (poliembrioni) dalam biji, sering terdapat pada biji mangga dan jeruk.

II. Pembuahan Pembuahan (fertilisasi) adalah peristiwa terjadinya peleburan antara gamet jantan dan betina. Terdapat perbedaan pembuahan pada gymnospermae dan angiospermae. Pada gymnospermae, terjadi pembuahan tunggal, sedangkan pada angiospermae terjadi pembuahan ganda.

a. Pembuahan tunggal pada Gymnospermae Pembuahan tunggal terjadi bila setiap pembuahan (satu kali pembuahan) menghasilkan embrio. Tumbuhan yang melaksanakan pembuahan ini mempunyai alat perkembang biakan yang berkumpul

pada satu badan yang disebut strobilus (kerucut). Strobilus jantan kecil disebut mikrosporofil, sedangkan strobilus betina besar disebut makrosporofil. Jalannya pembuahan tunggal

1. serbuk sari (mikrospora) yang sampai di tetes penyerbukan (pada strobilus betina) terisap masuk ke ruang serbuk sari melalui mikropil. Serbuk sari ini terdiri dari sel generatif atau sel anteridium (kecil) dan sel vegetatif atau sel tabung (besar). 2. serbuk sari yang berada di ruang serbuk kemudian tumbuh membentuk buluh serbuk sari menuju ruang arkegonium. Pada saat itu sel generatif membelah menjadi dua yaitu sel dinding (dislokator) dan sel spermatogen.Sel spermatogen kemudian membelah lagi membentuk dua sperma yang berambut getar. 3. selanjutnya sel vegetatif lenyap, sedangkan sel sperma yang berambut getar membuahi ovum yang terdapat pada ruang arkegonium dan akhirnya terbentuklah zigot. b. Pembuahan ganda pada Angiospermae Pembuahan ganda terjadi dua kali pembuahan yang menghasilkan satu embrio dan endosperm (Gambar 8.33).

Jalannya pembuahan ganda Sebelum pembuahan ini terjadi, terlebih dahulu ada perubahanperubahan pada benang sari dan pada putik, antara lain:

1. Perubahan pada putik a. Di ruang bakal biji (ovul) sel kandung lembaga dalam nuselus membelah menjadi 4, 3 di antaranya kemudian menyusut dan yang satu lagi menjadi sel calon kandung lembaga primer. Inti sel calon kandung lembaga primer membelah menjadi 2 dan masingmasing menuju kutub. Kemudian masing-masing membelah lagi 2 kali berturut-turut sehingga terbentuk 8 inti. b. Di dekat mikropil terdapat 3 inti yang menempatkan diri pada dinding disebut antipoda. Sedangkan inti yang satu lagi menuju ke tengah bergabung dengan satu inti yang lain dan membentuk inti kandung lembaga sekunder (polar nuclei = inti polar). c. Di dekat mikropil terdapat 3 inti yang menempatkan diri pada dinding bagian tengah disebut sel telur, sel pengapitnya disebut sinergid. Dalam keadaan seperti inilah putik siap dibuahi.

Gambar 8.33. Perkembangan gametofit dan pembuahan ganda pada Angiospermae(Campbell, 2006).

2. Perubahan pada serbuk sari Setelah proses meiosis berlangsung dalam kotak sari maka akan dihasilkan butir serbuk sari (polen). Serbuk sari mempunyai 2 membran, membran luar (ektin) dan membran dalam (intin). Serbuk sari ini mempunyai 2 inti yakni, inti vegetatif (inti tabung) dan inti generatif. Serbuk sari yang jatuh di kepala putik setelah beberapa saat akan berkecambah (tumbuh). Ektinnya pecah dan intin membuat buluh serbuk sari (pollen tube=buluh serbuk sari). Jadi dalam buluh serbuk sari terdapat inti vegetatif pada bagian depan dan inti generatif di bagian belakang. Perkembangan berikutnya inti generatif membelah lagi menjadi 2 inti generatif (inti sel sperma) tanpa rambut getar. Inti generatif yang di depan disebut inti generatif I (di belakang inti vegetatif) dan inti generatif yang berada di belakang inti generatif I disebut inti generatif II (inti sperma II). Jadi pada buluh serbuk (tabung serbuk sari) sekarang dijumpai 3 inti dan telah siap untuk mengadakan pembuahan.

Saat-saat pembuahan

Melalui tabung buluh serbuk sari, inti vegetatif akan sampai ke mikropil dan seketika lenyap. Selanjutnya inti generatif I dan inti generatif II bergerak menuju ruang kandung lembaga. Inti generatif l melebur dengan inti sel telur membentuk zigot yang akan berkembang menjadi embrio (bakal individu baru), inti generatif II membuahi inti kandung lembaga sekunder menjadi endosperm. Endosperm berperan sebagai cadangan makanan bagi perkembangan embrio kelak.

Berkaitan dengan proses penyerbukan dan pembuahan di atas, beberapa hal yang perlu diketahui antara lain:

a. Porogami, yaitu masuknya sperma ke dalam kandung lembaga melalui mikropil. Sedangkan bila tidak melalui mikropil disebut aporogami. b. Kalazogami, yaitu masuknya sperma ke dalam kandung lembaga melalui kalaza. c. Amfiksis, merupakan peleburan ovum dan sperma yang kemudian berkembang menjadi embrio. d. Ampomiksis, yaitu pembentukan embrio tanpa didahului oleh peleburan sperma dan ovum. Terjadi karena: a. Partenogenesis, yaitu pembentukan embrio dari sel telur yang tidak dibuahi.

b. Apogami, yaitu pembentukan embrio dari bagian lain kandung lembaga tanpa perkawinan. Misalnya dari sinergid, antipoda. c. Embrio adventif, yaitu embrio yang terjadi dari sel-sel lain kandung lembaga. Misalnya dari nuselus. Apomiksis menyebabkan terdapatnya lebih dari satu embrio dalam biji dan kejadian ini disebut poliembrio. Misalnya pada jeruk, mangga, atau duku.

III. Pemencaran alat perkembangbiakan Berdasarkan luasnya areal penyebaran, tumbuhan dapat dibedakan menjadi :

• Tumbuhan Kosmopolit, yaitu tumbuhan yang areal penyebarannya luas (terdapat di mana-mana). Contohnya Lumut. • Tumbuhan Endemik, tumbuhan yang daerah penyebarannya terbatas, hanya terdapat di daerah tertentu saja. Contohnya Raflesia arnoldii hanya ada di daerah Bengkulu. Untuk memperluas tempat tumbuhnya, (areal atau daerah distribusi), calon individu baru dari suatu tumbuhan dilepaskan atau meninggalkan induknya (dipencarkan atau didispersalkan) dengan atau tanpa bantuan faktor-faktor lain. Pemencaran terbagi dua macam, yaitu: tanpa bantuan faktor luar dan dengan bantuan faktor luar.

Tanpa Bantuan Faktor Luar

Pemencaran alat perkembangbiakan tanpa bantuan faktorfaktor luar, misalnya:

1. Rhizoma. Rhizoma tumbuh menjalar dalam tanah, dan pada suatu jarak tertentu dari induknya tunas rhizoma muncul di atas permukaan tanah menjadi tumbuhan baru. Misalnya pada bunga tasbih (Canna) dan berbagai jenis jahe-jahean (zingiberaceae). 2. Pembentukan tunas-tunas (anakan) yang tetap berada dekat induknya sehingga terjadi rumpun. Misalnya pada bamboo (Bambusa), pisang (Musa) dan lain-lain. 3. Tumbuhan induk pada geragih (stolon), pada jarak tertentu dapat menghasilkan tumbuhan baru. Misalnya pada pegagan (Centela asiatica), rumput teki (Cyperus rotundus).

4. Gerak higroskopis. Gerak ini menyebabkan biji terpelanting. Misalnya pada : jarak (Ricinus sp) , kembang merak (Caesalpinia pulcherrima) dan lain-lain. Dengan Bantuan Faktor Luar

Pemencaran alat perkembangbiakan dengan bantuan faktor luar, antara lain :

1. Dengan perantaraan angin (anemokori). Ciri tumbuhannya: alat perkembangbiakannya mudah diterbangkan oleh angin. Contoh tanamannya ialah: a. Anggrek (orchidaceae): biji kecil dan ringan. b. Lalang (Imperata cylindrica), kapuk (Ceiba pentandra), biduri (Calotropis gigantea): bijinya kecil, mempunyai rambut dan bulu-bulu. c. Mahoni (Swietenia): biji bersayap. d. Meranti, tengkawang: buah bersayap. 2. Dengan perantaraan air (hidrokori) Ciri tumbuhannya alat perkembangbiakan ringan, massa jenis lebih besar dari satu, mempunyai pelindung (perikarp/kulit buah) yang baik bagi calon individu baru. Contoh: a. Kelapa mempunyai tiga lapisan perikarp: * Eksokarp merupakan lapisan yang tipis, licin , mengkilap, tidak mudah basah, tidak mudah tembus air. * Mesokarp merupakan lapisan yang tebal dan banyak ronggarongga udaranya. * Endokarp merupakan lapisan yang keras, kuat, dan berfungsi sebagai pelindung terhadap embrio. 3. Dengan perantaraan hewan (zookori) Berdasarkan jenis hewan perantaranya dibedakan atas: a. Entomokori, yaitu pemencaran dengan bantuan serangga. Ciri tumbuhannya: biji kecil dan mengandung lemak, misalnya tembakau (Nicotiana). b. Ornitokori, yaitu pemencaran dengan bantuan burung. Ciri tumbuhannya: biji tidak dapat dicerna misalnya beringin (Ficus), dan benalu (Loranthyus). c. Kiropterokori, yaitu pemencaran dengan bantuan kelelawar. Ciri tumbuhannya memiliki bagian buah yang dapat dimakan, sedangkan bijinya tidak dapat dicerna. Misalnya: jambu biji (Psidium guajava), dan jambu air (Eugenia javanica).

d. Mamokori, yaitu pemencaran melalui mamalia. Ciri tumbuhannya: memiliki buah atau biji yang dapat menempel pada tubuh mamalia, misalnya rumput jarum (Andropogon aciculatus) pada kelelawar, biji kopi (Coffea) oleh musang. 4. Perantara manusia (antropokori), secara: * Sengaja, membantu pemencaran biji-biji tumbuhan dengan sengaja karena penting bagi kehidupan manusia. Misalnya kina dan pala dari Amerika selatan, kopi dan kelapa sawit dari Afrika. * Tidak sengaja, yaitu menempel dan melekat pada pakaian, tercampur dengan bahan-bahan tumbuhan yang didatangkan dari daerah lain. Contoh rumput jarum dan pulutan. 5. Dengan bantuan panas Panas dapat meningkatkan tekanan udara ruang dalam buahbuahan, sehingga ketika tekanannya maksimum buah tersebut meledak dan biji-bijinya terpental keluar. 8.8. Klasifikasi Tumbuhan Awal periode evolusi tumbuhan memperlihatkan bahwa tumbuhan berasal dari nenek moyang makhluk hidup akuatik, kemungkinan ganggang hijau, dengan berbagai bentuk penyesuaian terhadap kehidupan di darat.

Tumbuhan merupakan makhluk hidup eukariotik multiseluler yang dapat membuat molekul organik dari bahan-bahan anorganik melalui proses fotosintesis.

Keanekaragaman tumbuhan modern diwakili oleh empat kelompok besar tumbuhan yakni Bryophyta ( lumut),Pteridophyta (paku-pakuan),Gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka) dan Angiospermae (tumbuhan berbiji tertutup).

Bryophyta mirip dengan tumbuhan lain karena memiliki kutikula serta embrio yang berkembang dalam gametangia, tetapi berbeda dalam hal tidak memiliki xilem dan floem. Tanpa xilem dan floem, lumut (Bryophyta) tidak memiliki pendukung internal yang kaku.

Coba kalian amati lumut yang terhampar di tanah atau di tebingtebing yang lembab, sebetulnya mereka terdiri atas banyak tumbuhan yang tumbuh rapat. Lumut tersebut bersifat seperti spons, dapat menyerap sekaligus menahan air. Masing-masing tumbuhan lumut

memiliki batang serta daun kecil dan melekat ke tanah dengan sel-sel yang memanjang atau perpanjangan seperti akar. Lumut memiliki sperma berflagel, sperma tersebut harus berenang untuk mencapai telur dan membuahinya, berarti proses pembuatannya memerlukan adanya air.

Pada lumut, generasi gametofit merupakan generasi yang lebih dominan dibandingkan generasi sporofitnya.

Paku-pakuan (Pteridophyta) termasuk tumbuhan berpembuluh tanpa biji, telah mempunyai akar yang berkembang baik dan batang yang kaku. Pada banyak spesies, daun paku yang umum disebut ental (frond), tumbuh dari batang yang menjalar di bawah tanah. Ciri khas tumbuhan paku ditunjukkan dengan daun muda (ental) yang menggulung. Tumbuhan paku umumnya hidup di tempat teduh, keragamannya tinggi di daerah tropik. Seperti halnya lumut, tumbuhan paku juga mempunyai sperma berflagel yang memerlukan lapisan air untuk terjadinya pembuahan.

Tumbuhan berbiji (Angiospermae dan Gymnospermae) memiliki keragaman yang tinggi, mencakup hampir 90% dari sekitar 265.000 spesies tumbuhan hidup. Beberapa kunci adaptasi mendasari keberhasilan tumbuhan berbiji, pertama mereka menghasilkan biji sebagai bentuk adaptasi kehidupan di darat, kedua tumbuhan berbiji tidak memerlukan lapisan air untuk proses pembuahan. Tumbuhan berbijii menghasilkan pollen, suatu kendaraan yang mentransfer sel pembentuk sperma tak berflagel ke bagian gametangium betina. Pollen dibawa secara pasif oleh hewan atau angin, dan sampainya pollen pada bagian betina (misalnya putik) disebut penyerbukan. Pembuahan terjadi beberapa saat setelah penyerbukan.

Tumbuhan berbiji yang ada paling awal adalah Gymnospermae (Yunani: gymnos=telanjang; sperma=biji). Biji Gymnospermae dikatakan telanjang karena tidak dilindungi oleh daun buah. Sekarang, konifer/pinus, dan banyak pohon lain dengan kerucut pembawa biji dan dengan daun seperti jarum merupakan kelompok terbesar dari Gymnospermae.

Tumbuhan berbiji yang secara evolusi bercabang dari garis Gymnospermae disebut tumbuhan berbunga atau Angiospermae (Yunani:angeion=pembuluh;sperma=biji). Bunga merupakan struktur reproduksi yang kompleks yang mengembangkan biji. Sebagian besar tumbuhan modern berupa Angiospermae yaitu sekitar 235.000 spesies.

1.Lumut (Bryophyta)

Pada lumut, generasi gametofit merupakan generasi yang lebih dominan dibandingkan dengan generasi sporofit. Lumut yang kalian lihat sehari-hari umumnya berada dalam generasi gametofit. Generasi ini mempunyai masa hidup yang panjang, ukurannnya lebih besar daripada generasi sporofit.

Generasi sporofit pada lumut bergantung pada generasi gametofit dalam hal makanan, masa hidupnya lebih pendek. Contoh lumut misalnya Marchantia (lumut hati/liverwort), Anthoceros (lumut tanduk/hornwort), dan Polytrichum (lumut daun/mosses) (Gambar 8.34). Lumut termasuki tumbuhan pionir dalam ekosistem dan secara kolektif dapat berfungsi sebagai reservoir karena memiliki kantungkantung untuk menampung air. Selain itu di Amerika Utara, biomassa lumut juga dimanfaatkan sebagai sumber energi penghasil panas.

Gambar 8.34. Keanekaragaman lumut, (a) lumut hati, (b) lumut daun, (c) lumut tanduk (Campbell, 2006).

2.Paku-pakuan (Pteridophyta)

Tumbuhan paku-pakuan adalah tumbuhan berpembuluh yang berkembangbiak dengan spora. Tubuh tumbuhan paku dapat dibedakan menjadi akar, batang, dan daun. Tumbuhan ini tidak memiliki bunga maupun biji.

Paku-pakuan dapat hidup di tanah, air, pada cabang pohon (epifit), bahkan dapat menempel di bebatuan. Paku yang hidup di tanah ada yang menyukai tempat yang lembab dan terlindung ada juga yang hidup di daerah terbuka dan panas. Paku epifit banyak dijumpai di hutan-hutan dengan penyinaran matahari yang tak terlalu

panas. Anggota paku air tidak sebanyak paku tanah dan epifit, hidup mengapung bebas di air atau berakar dalam tanah tapi sebagian tubuhnya terdapat di air. Tumbuhan paku mempunyai daerah penyebaran yang luas, dari tepi pantai sampai pegunungan, bahkan di daerah dingin atau dekat kawah. Di daerah pegunungan keragamannya jauh lebih banyak dibandingkan di dataran rendah. Bila kalian jalan-jalan ke hutan kalian dapat menjumpai berbagai tumbuhan paku misalnya paku kawat (Lycopodium), paku gajah (Angiopteris), paku pohon (Dicksonia dan Cyathea), paku rane (Selaginella) dan berbagai suplir (Adiantum) (Gambar 8.35).

Tumbuhan paku telah banyak digunakan untuk berbagai keperluan, antara lain sebagai tanaman hias, obat-obatan, media tumbuh anggrek, sebagai sayuran, bahkan batangnya dapat digunakan sebagai penyangga rumah (jenis paku pohon).

Gambar 8.35. Tumbuhan paku (Pteridophyta) (Campbell, 1997).

3.Gymnospermae

Kelompok Gymnospermae yang dominan pada saat sekarang adalah konifer (tumbuhan berbiji terbuka yang menghasilkan kerucut), contohnya pohon pinus. Pohon pinus berdaun seperti jarum tahan terhadap kekeringan karena mempunyai sedikit area permukaan untuk transpirasi. Kutikula yang tebal yang menutupi permukaan daun juga membantu menahan air. Pohon pinus termasuk generasi sporofit, generasi gametofitnya tumbuh di dalam kerucutnya. Terdapat dua macam kerucut, kerucut betina berukuran lebih besar daripada kerucut jantan, mempunyai sisik yang keras, masing-masing sisik membawa sepasang bakal biji (ovul). Kerucut jantan umumnya kecil, lebih lunak dibanding kerucut betina dan masa hidupnya pendek. Gametofit jantan (butir pollen) berkembang dari spora. Bila kerucut

jantan matang, sisiknya terbuka dan melepaskan jutaan pollen. Pada butir pollen, terdapat sel yang akan berkembang menjadi sperma. Sperma memerlukan waktu berbulan-bulan untuk berkembang di dalam butir pollen. Pembuahan baru akan terjadi lebih dari setahun sejak terjadinya penyerbukan. Setelah pembuahan, keseluruhan ovul berkembang menjadi biji.

Biji mengandung cadangan makanan untuk perkembangan embrio, mempunyai kulit biji yang kuat. Pada pinus, biji dilepaskan dari kerucut betina sekitar dua tahun setelah penyerbukan.

Gymnospermae dibedakan ke dalam empat divisi, yakni Coniferophyta, Cycadophyta, Ginkgophyta, dan Gnetophyta (Gambar 8.36). Dari keempat divisi ini yang terbesar adalah Coniferophyta, yaitu konifer. Konifer mendominasi hutan di belahan bumi utara. Hampir semua konifer adalah evergreen (selalu hijau, tidak gugur). Divisi Cycadophyta menyerupai palem, memiliki biji terbuka yang terdapat dalam sporofil, yaitu daun yang terspesialisasi untuk reproduksi. Ginkgo adalah satu-satunya spesies yang masih hidup dari divisi Ginkgophyta. Tumbuhan ini memiliki daun seperti kipas yang warnanya berubah keemasan dan rontok pada musim gugur, suatu sifat yang tidak umum pada Gymnospermae. Divisi Gnetophyta terdiri atas tiga genus, yang kemungkinan tidak berkerabat dekat satu sama lain, contohnya Gnetum gnemon (melinjo), tumbuh di daerah tropis.

Berbagai manfaat diperoleh dari Gymnospermae antara lain penggunaan batang pohon sebagai bahan bangunan, sebagai bubur kertas, penghasil resin, bahan makanan, obat-obatan, dan lain-lain.

4.Angiospermae

Saat ini Angiospermae merupakan tumbuhan yang keanekaragamannya paling tinggi dan secara geografis tersebar palinh luas. Dewasa ini dikenal sekitar 250.000 spesies Angiospermae, mencakup hampir 80% dari semua tumbuhan. Angiospermae mensuplai hampir semua makanan kita dan juga serat untuk tekstil. Butir-butir sereal, meliputi gandum, jagung, serta buahbuahan seperti halnya mangga, jeruk, pepaya, juga sayuran, rami, kapas, semuanya merupakan tumbuhan Angiospermae. Kita juga menanam Angiospermae untuk mendapatkan obat-obatan, bahan parfum, pewarna, pemanis, bahan penyamak kulit, dan lain-lain

Gambar 8.36. Keanekaragaman Gymnospermae (Campbell, 2006).

Ada beberapa adaptasi unik untuk keberhasilan Angiospermae. Daun-daun dari kebanyakan spesies lebar dan rata, suatu bentuk yang membuat mereka menjadi pengumpul energi matahari yang efektif.

Semua Angiospermae ditempatkan dalam satu divisi tunggal, Anthophyta (Yunani:Antho=bunga;phyta=tumbuhan). Anthophyta dibagi menjadi dua kelas: Monokotiledon (monokotil), dan Dikotiledon (dikotil), terutama berdasarkan jumlah keping bijinya (kotiledon) (Gambar 8.37). Contoh-contoh monokotil adalah anggrek, palem, rumput-rumputan, dan lain-lain, contoh dikotil meliputi kacangkacangan, tumbuhan bergetah, tanaman hias, dan lain-lain.

Gambar 8.37. Keanekaragaman Angiospermae (Campbell, 2006)..

Gambar 8.38. Perbedaan tumbuhan monokotil dan dikotil. (Campbell, 2006).

8.9. Pertanian organik Memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintesis dalam pertanian. Orang semakin arif dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup sehat dengan slogan

281

back to nature telah menjadi trend baru meninggalkan pola hidup lama yang menggunakan bahan kimia non alami, seperti pupuk sintesis, pestisida kimia, dan hormon tumbuh dalam produksi pertanian. Pangan yang sehat dan bergizi tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik.

Pertanian organik adalah teknik budi daya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintesis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya, serta tidak merusak lingkungan. Gaya hidup demikian telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (ecolabelling attributes). Preferensi seperti ini menyebabkan permintaan produk pertanian organik dunia meningkat pesat.

Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya hayati tropika yang unik. Kelimpahan sinar matahari, ketersediaan air dan tanah, serta budaya masyarakat yang menghormati alam, mendukung potensi pertanian organik yang sangat besar. Pasar produk pertanian organik dunia meningkat 20% per tahun, oleh karena itu pengembangan budidaya pertanian organik perlu diprioritaskan pada tanaman bernilai ekonomi tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.

Peluang pertanian organik di Indonesia

Luas lahan yang tersedia untuk lahan organik di Indonesia sangat besar. Dari 75,5 juta ha lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian, baru sekitar 25,7 juta ha yang telah diolah untuk sawah dan perkebunan (BPS, 2000). Pertanian organik menuntut agar lahan yang digunakan tidak atau belum tercemar oleh bahan kimia dan mempunyai aksesibilitas yang baik. Kualitas dan luasan menjadi pertimbangan dalam pemilihan lahan. Lahan yang belum tercemar adalah lahan yang belum diusahakan, tetapi secara umum lahan demikian kurang subur. Lahan yang subur umumnya telah diusahakan secara intensif dengan menggunakan bahan pupuk dan pestisida kimia. Menggunakan lahan seperti ini memerlukan masa konversi cukup lama, yaitu sekitar 2 tahun.

Di samping itu, volume produk pertanian organik mencapai 5-7% dari total produk pertanian yang diperdagangkan di pasar internasional. Sebagian besar disuplai oleh Negara-negara maju seperti Australia, Amerika dan Eropa. Di Asia, pasar produk pertanian

organik lebih banyak didominasi oleh negara-negara timur jauh seperti Jepang, Taiwan, dan Korea.

Potensi pasar produk pertanian organik di dalam negeri sangat kecil, hanya terbatas pada masyarakat menengah ke atas. Berbagai kendala yang dihadapi antara lain : 1) belum ada insentif harga yang memadai untuk produsen produk pertanian organik, 2) perlu investasi mahal pada awal pengembangan karena harus memilih lahan yang benar-benar steril dari bahan agrokimia, 3) belum ada kepastian pasar, sehingga petani enggan memproduksi komoditas tersebut.

Areal tanam pertanian organik di negara Australia dan Ocenia mempunyai lahan terluas yaitu sekitar 7,7 juta ha. Eropa, Amerika Latin dan Amerika Utara masing-masing 4,2 juta; 3,7 juta dan 1,3 juta ha. Areal tanam komoditas pertanian organik di Asia dan Afrika masih relatif rendah, yaitu sekitar 0,09 juta dan 0,06 juta ha (tabel 8.6). Sayuran, kopi dan teh mendominasi pasar produk pertanian internasional di samping produk peternakan.

Tabel 8.6.Luas areal tanam lahan pertanian organik di dunia

No Nama negara Luas areal tanam (juta ha) 1 2 3 4 5 6 Australia dan Ocenia Eropa Amerika latin Amerika utara Asia Afrika 7,70 4,20 3,70 1,30 0,09 0,06

Sumber : IFOAM, 2002; PC-TAS, 2002

Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk bersaing di pasar internasional walaupun secara bertahap. Hal ini karena berbagai keunggulan komperatif yang ada, antara lain : 1) Banyak sumber daya lahan yang dapat dibuka untuk mengembangkan sistem dan teknologi untuk mendukung pertanian organik seperti pembuatan kompos, tanam tanpa olah tanah, pestisida hayati dan lain-lain. Pengembangan pertanian organik di Indonesia harus ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar global. Oleh sebab itu komoditas– komoditas eksotik seperti sayuran,hasil perkebunan seperti kopi dan teh yang memiliki potensi ekspor cukup cerah, perlu segera dikembangkan. Produk kopi misalnya, Indonesia merupakan pengekspor terbesar ke dua setelah Brasil, tetapi sangat disayangkan di pasar internasional kopi Indonesia belum memiliki merek dagang.

Pengembangan pertanian organik di Indonesia belum memerlukan struktur kelembagaan baru, karena sistem ini sama halnya dengan pertanian intensif seperti saat ini. Kelembagaan petani

seperti kelompok tani, koperasi, asosiasi atau korporasi masih sangat relevan. Namun yang paling penting lembaga pertanian tersebut harus dapat memperkuat posisi tawar petani.

Petani organik modern

Beberapa tahun terakhir, pertanian organik modern masuk dalam sistem pertanian Indonesia secara sporadis dan kecil-kecilan. Pertanian organik modern berkembang memproduksi bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan sistem produksi yang ramah lingkungan. Tetapi secara umum konsep pertanian organik modern belum banyak dikenal dan masih banyak dipertanyakan. Penekanan sementara ini lebih kepada meninggalkan pemakaian pestisida sintesis. Dengan makin berkembangnya pengetahuan dan teknologi kesehatan, lingkungan hidup, mikrobiologi, kimia, biologi molekuler, biokimia dan lain-lain. Pertanian organik terus berkembang.

Dalam sistem pertanian organik modern diperlukan standar mutu yang diberlakukan oleh negara-negara pengimpor dengan sangat ketat. Seringkali satu produk organik harus dikembalikan ke negara pengekspor, termasuk ke Indonesia, karena masih ditemukan kandungan residu pestisida maupun bahan kimia lainnya. Banyaknya produk-produk yang diklaim sebagai produk pertanian yang tidak disertifikasi membuat keraguan dipihak konsumen. Sertifikasi produk pertanian organik dapat dibagi menjadi dua kriteria sebagai berikut:

a). sertifikasi lokal untuk pangsa pasar dalam negeri.

Kegiatan pertanian ini masih mentolerir penggunaan pupuk kimia sintesis dalam jumlah yang minimal atau low external input sustainable agriculture (LEISA), namun sudah sangat membatasi penggunaan pestisida sintesis. Pengendalian OPT dengan menggunakan biopestisida, varietas toleran, maupun agensia hayati. Tim untuk merumuskan sertifikasi nasional sudah dibentuk oleh departemen pertanian dengan melibatkan perguruan tinggi dan pihakpihak lain yang terkait.

b) sertifikasi internasional untuk pangsa ekspor dan kalangan tertentu

di dalam negeri.

Misalnya sertifikasi yang dikeluarkan oleh SKAL maupun IFOAM. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi antara lain ialah masa konversi lahan, tempat penyimpanan produk organik, bibit, pupuk dan pestisida serta pengolahan hasilnya harus memenuhi persyaratan tertentu sebagai produk pertanian organik.

Beberapa komoditas prospektif yang dapat dikembangkan dengan sistem pertanian organik di Indonesia antara lain tanaman pangan,

hortikultura, perkebunan, tanaman rempah-rempah, tanaman obatobatan serta peternakan (tabel 8.7). Menghadapi era perdagangan bebas (tahun 2010), diharapkan pertanian organik Indonesia sudah dapat mengekspor produknya ke pasar internasional.

Table 8.7. Komoditas produk unggulan dengan sistem pertanian organik

No Kategori komoditi 1 2 3 4 5 tanaman pangan padi hortikultura sayuran :brokoli, kubis merah, petsai, caisin, cho putih, kubis tunas, bayam daun, labu siyam, oyong dan baligo. buah-buahan: nangka, durian, salak, mangga, jeruk, dan manggis. perkebunan kelapa, pala, jambu, mete, cengkeh, lada, vanilli, dan kopi. rempah dan obat: jahe, kunyit, temulawak, dan temu-temuan lainnya. peternakan susu, telur dan daging

Bagaimana mengenali produk organik di pasaran?

Ada pendapat bahwa untuk mengenali produk organik dapat dilihat dari penampakan daun, buah atau batang tanaman. Bila terdapat lubang atau berulat, menandakan bahwa tanaman tersebut menggunakan hanya sedikit atau tanpa pestisida, karena biasanya sayuran yang betul-betul mulus tanpa cela menunjukkan si petani menggunakan pestisida berlebihan. Sebaliknya sayuran yang daunnya berlubang atau batangnya berulat menandakan petani menggunakan hanya sedikit atau tanpa pestisida.

Sayuran organik seperti kacang panjang, buncis dan wortel terasa manis dan renyah, kesegarannya juga lebih tahan lama. Sedangkan, nasi yang berasal dari beras organik beraroma wangi, empuk dan lebih awet.

Tetapi dari fakta lapangan menunjukkan bahwa budidaya pertanian dapat menghasilkan produk yang mulus, tidak berlubang, tidak berulat bila proses perawatan dan monitoringnya dilakukan dengan baik. Selain itu produk organik yang dipasarkan tidak hanya produk pertanian segar, tetapi juga terdapat produk segar (olahan) dari ternak atau perikanan. Cara di atas hanya memberikan informasi awal untuk mengetahui keorganikan produk, tetapi bukan jaminan keorganikan produk organik.

Bagaimana menentukan keorganikan produk organik?

Keyakinan dan kepercayaan menjadi landasan konsumen memilih produk organik. Keorganikan suatu produk organik ditentukan bukan

berdasarkan produknya tetapi bagaimana produk tersebut diproses (organically produced). Konsumen sebaiknya mengetahui bagaimana proses untuk menghasilkan produk organik yang di konsumsi dengan berkunjung ke lahan budidaya pertanian organik, sehingga konsumen menjadi yakin dan percaya, bahwa produk tersebut benar-benar organik.

Bagaimana mengetahui keorganikan produk organik bila jarak konsumen dan produsen jauh sehingga konsumen tidak mengetahui siapa dan bagaimana proses produksinya?

Jika produsen memiliki orientasi pemasaran yang makin luas (pasar nasional atau ekspor), dan konsumen tidak dapat diorganisir secara langsung, maka diperlukan sertifikasi atau pelabelan produk organik untuk memberikan keyakinan dan kepercayaan kepada konsumen bahwa produk tersebut benar-benar organik.

Apa sertifikasi organik itu?

Proses untuk mendapatkan pengakuan bahwa proses budidaya pertanian organik atau proses pengolahan produk organik dilakukan berdasarkan standar dan regulasi yang ada disebut dengan sertifikasi organik. Apabila memenuhi prinsip dan kaidah organik, produsen dan atau pengolah akan mendapatkan sertifikasi organik dan berhak mencantumkan label organik pada produk yang dihasilkan dan pada bahan-bahan publikasinya.

Apakah untuk menentukan keorganikan produk diperlukan pengujian laboratorium?

Pengujian laboratorium untuk menentukan keorganikan produk organik diperlukan bila terdapat kecurigaan terjadinya praktek yang melanggar prinsip dan kaidah pertanian organik yang dilakukan pada proses budidaya atau pada proses pengolahan produksi. Bila dilakukan pengujian laboratorium, contoh uji bukan hanya pada produk akhir saja, tapi juga air dan tanah yang dipergunakan dalam proses pengolahan produksinya. Pengujian dilakukan setiap saat pada tiap tahap proses sehingga biaya pengujian laboratorium menjadi amat besar, yang tentunya memberatkan produsen dan petani itu sendiri.

Rangkuman

Sel tumbuhan terdiri atas: dinding sel, sitoplasma (retikulum endoplasma, ribosom, mitokondria, aparatus golgi, plastida,mirotubul, vakuola) dan nukleus. Sel tumbuhan bentuknya tetap karena memiliki dinding sel yang mengandung selulosa. Pada dinding sel tumbuhan dijumpai struktur khusus yang disebut noktah. Melalui noktah ini aliran sitoplasma sel-sel yang berdampingan (plasmodesmata) dapat saling berhubungan.

Jaringan adalah kelompok sel-sel yang struktur dan fungsinya sama. Di dalam tubuh tumbuhan terdapat dua jenis jaringan utama, yaitu jaringan meristem dan jaringan dewasa. Jaringan meristem adalah jaringan yang aktif membelah, terdiri atas meristem primer yang terdapat pada ujung akar dan ujung batang, dan meristem sekunder yang ditemukan pada batang tumbuhan dikotil. Jaringan dewasa tersusun dari sel-sel yang kompleks, berupa parenkim, epidermis, jaringan penyokong (klorenkim dan sklerenkim), jaringan pengangkut (xilem dan floem), dan jaringan gabus (periderm).

Organ pada tumbuhan terdiri atas tajuk (batang, cabang, dan daun) serta akar. Organ pada tumbuhan monokotil dan dikotil (akar, batang dan daun), berbeda dalam struktur morfologi dan anatominya.

Berkas pengangkut berkelompok membentuk berkas pembuluh atau berkas pembuluh yang meluas ke seluruh organ tubuh, akar, batang, daun, dan bunga sehingga transportasi tumbuhan dapat berlangsung dengan cepat dan efisien.

Pertumbuhan adalah peristiwa pertambahan volume yang mencakup pertambahan jumlah sel, volume sel, jenis sel, maupun substansi yang terdapat di dalam sel dan bersifat irreversible (tak dapat kembali). Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu faktor intraseluler (hereditas/gen) dan faktor interseluler yaitu makanan (nutrisi), gen, lingkungan, dan zat tubuh (hormon).

Perkembangan adalah suatu proses yang berjalan sejajar dengan pertumbuhan. Perkembangan dapat diartikan sebagai suatu proses menuju tercapainya kedewasaan, tidak dapat dinyatakan dengan ukuran.

Gerak pada tumbuhan dapat dibedakan berdasarkan bagian yang bergerak dan faktor-faktor yang mempengaruhi gerak tersebut. Macam gerak tersebut adalah gerak higroskopis, gerak endonom, dan gerak esionom.

Perkembangbiakan pada umumnya dibedakan dalam dua cara yaitu perkembangbiakan aseksual (vegetatif), serta perkembangbiakan seksual (generatif).

Reproduksi vegetatif terbagi dua yaitu alami (pembentukan spora, fragmentasi, tunas adventif, geragih/stolon, rizoma, rizoid, tunas, umbi akar, umbi batang, umbi daun) dan buatan (mencangkok, menempel/okulasi, menyambung, merunduk, mengenten, dan stek). Keuntungan reproduksi vegetatif ialah mendapatkan tanaman sesuai dengan sifat induknya dan cepat menghasilkan buah, sedangkan kerugiannya ialah batang tidak kokoh dan tidak tahan hidup lama. Reproduksi generatif pada tumbuhan berlangsung melalui tiga tahap yaitu polinasi, pembuahan, dan pemencaran alat perkembangbiakan. Pemencaran terbagi dua macam, yaitu: tanpa bantuan faktor luar (rizoma, tunas, stolon, dan higroskopis),serta dengan bantuan faktor luar (angin, air, hewan, manusia, dan panas).

Tumbuhan kemungkinan besar berevolusi dari ganggang hijau yang hidup di perairan, dengan berbagai bentuk adaptasi terhadap kehidupan di darat. Tumbuhan merupakan makhluk hidup eukariot multiseluler yang dapat membuat molekul organik dari molekul anorganik melalui proses fotosintesis. Keanekaragaman tumbuhan modern dewasa ini diwakili oleh empat kelompok besar, yakni Bryophyta (lumut), Pteridophyta (paku-pakuan), Gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka), dan Angiopermae (tumbuhan berbiji tertutup).

Pertanian organik adalah teknik budi daya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintesis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya, serta tidak merusak lingkungan. Gaya hidup demikian telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (ecolabelling attributes).

Soal Latihan

A.
Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c, d, atau e untuk
jawaban yang tepat!
1.
Lapisan gabus pada batang suatu tumbuhan disebut dengan ….
a. felem
d. prokambium
b. felogen
e. perisikel
c. perikambium
2.
Di antara jaringan-jaringan di bawah ini yang bukan jaringan
tumbuhan adalah ….
a. floem
d. xilem
b. kolenkim
e. parenkim
c. epitel
3.
Dengan adanya rambut-rambut akar maka terjadi proses
penyerapan air dan garam-garam mineral dari dalam tanah oleh
tanaman. Proses ini disebut dengan ….
a. difusi
d.imbibisi
b. absorbsi
e.respirasi
c. reasorpsi
4.
Sel tumbuhan yang memberi kekuatan pada tempurung kenari
dan kelapa adalah ….
a. kolagen
d. kolenkim
b. parenkim
e. sklereid
c. xylem
5. Sel-sel yang dapat membelah terdapat pada ….
a. buah yang masak d. batang
b. ujung akar
e. bunga
c. jaringan permanen
6. Yang
membedakan antara sel kolenkim dan sel sklerenkim adalah
….
a. ukurannya
b. keadaan dindingnya
c. bentuknya
d. jumlah selnya
e. kepadatan selnya

7.
Umumnya sel epidermis tumbuhan tidak mempunyai klorofil,
kecuali ….
a. epidermis bawah
b. jaringan spons
c. jaringan palisade
d. sel epidermis atas
e. sel penutup stomata
8.
Dari modifikasi organ apakah organ bunga pada tumbuhan
dibentuk?
a. batang
d.daun
b. akar
e.buah
c. biji
9. Bukan perbedaan batang monokotil dan dikotil ialah ….
a. percabangan pada batang
b. susunan jaringan pembuluh
c. lokasi empulur
d. struktur kambium
e. bentuk sel parenkim
10. Selain
letak dan fungsinya, pembuluh xilem dan floem dapat
dibedakan menurut ….
a. struktur penyusun
b. warna
c. jaringan dasar
d. kandungan klorofil
e. lapisan epidermis
11. Fermentasi alkohol yang dikerjakan oleh
Saccharomyces dalam
larutan yang mengandung glukosa dapat dituliskan dalam
persamaan reaksi ….
a. C6H12O6
C2H5OH+CO2

b. C6H12O6
2C2H5OH+2CO2+28kkal

c. C6H12O6
2C2H5OH+2CO+O2
d C6H12O6. 2C3H4O3+2H2

e. C6H12O6
C2H5OH+2H2O+2CO2

12. Perbedaan antara kemosintesis terletak pada ….
a. macam unsur yang digunakan
b. sumber energi yang dimanfaatkan
c. macam makhluk hidup yang bekerja
d. medium tempat hidup makhluk hidup

e. zat hasil sintesisnya
13. Gejala klorosis pada tumbuhan dapat dihindarkan jika tanah
tempat tumbuhnya diberi pupuk yang mengandung ….
a. urea
b. N, P, K
c. Fe dan Mg
d. Fosfat
e. C, H, O
14. Pembuatan tape dari singkong dengan bantuan ragi merupakan
proses ….
a. respirasi
b. hidrolisa
c. fermentasi
d. degradasi
e. fosforilasi
15. Gerak melilit sulur tanaman markisa pada ranting tanaman lain
termasuk gerak ….
a. hidrotropi
b. tigmotropi
c. geotropi
d. fototropi
e. otonom
16. Persamaan antara gerak tropi dan taksis adalah bahwa kedua
macam gerak tersebut ….
a. dipengaruhi oleh cahaya
b. geraknya menjuhi sumber rangsang
c. arah gerak ditentukan sumber rangsang
d. gerak tidak bebas
e. dipengaruhi suhu
17. Di antara gerak berikut ini yang termasuk fotonasti adalah ….
a. gerak kloroplas ke sisi sel yang dikenai matahari
b. spermatozoid menuju sel telur
c. membuka stomata
d. menutup stomata
e. batang kecambah

18.
Pada waktu sore hari kita sering melihat daun-daun famili
Leguminoceae menutup. Gerakan itu disebut ….
a. fotonasti
b. seismonasti
c. termonasti
d. nasti
e. niktinasti
19.
Sebuah tanaman dalam pot diletakkan horizontal dalam ruang
gelap akan terlihat batangnya tumbuh ke atas. Akan tetapi, jika
pot tersebut diputar terus-menerus maka batangnya tetap
horizontal karena ….
a.
pemutaran menolong pertumbuhan ke arah horizontal
b.
pemutaran mencegah rangsangan luar
c.
pemutaran tersebut meniadakan pengaruh cahaya matahari
d.
pemutaran mencegah rangsangan dalam
e.
pemutaran tersebut meniadakan gaya tarik bumi
20.
Penyebaran alat perkembangbiakan secara entomokori terjadi
pada tumbuhan yang bijinya ….
a. kecil dan mengandung lemak
b. kecil dan ringan
c. dapat dimakan dan ringan
d. kecil dan mempunyai sayap
e. mempunyai rambut-rambut
21.
Salah satu di antara tumbuhan di bawah ini yang penyebaran
alat perkembangbiakannya dibantu dengan air adalah ….
a.
padi d. kelapa
b.
vanili e. kopi
c. anggrek
22.
Tumbuhan yang penyebarannya dibantu dengan angin antara
lain ….
a. meranti
d. mahoni
b. kapok
e. jambu biji
c. anggrek

23.
Berikut ini adalah ciri-ciri bunga tumbuhan yang penyerbukannya
dibantu oleh angin, kecuali ….
a. tidak memiliki mahkota
b. serbuk sarinya banyak
c. serbuk sarinya ringan
d. mengeluarkan bau yang khas
e. kepala putiknya besar
24. Pada reproduksi tumbuhan berbunga, masaknya benang sari dan
daun buah adalah sangat penting. Bila masaknya benang sari
lebih dahulu dari bakal buah maka bunga demikian dinamakan ….
a. herkogami
b. kleistogami
c. protogini
d. protandri
e. apogami
25. Pada bunga kembang sepatu, letak kepala sari lebih rendah dari
kepala putik. Cara penyerbukan yang tidak mungkin terjadi pada
bunga tersebut adalah penyerbukan ….
a. silang
b. tetangga
c. baster
d. sendi
e. serangga
26. Hormon berikut tidak termasuk hormon pertumbuhan pada
tumbuhan ….
a. asam absisat d. sitokinin
b. auksin e. tiroksin
c. giberellin

27. Pertumbuhan biji diawali dengan penyerapan ….
a. oksigen
d. air
b. karbondioksida e. cahaya
c. mineral
28. Untuk mempermudah pengamatan jaringan penyusun batang,
secara mikroskopis dapat digunakan reagen ….
a. millon
d. metilen biru
b. benedict
e. asetokarmin

c. anilin
29. Hormon yang berfungsi untuk mempengaruhi penyembuhan luka
pada batang mangga, yaitu ….
a. kaulokalin d. filokalin
b. rhizoklain e. anthokalin
c. asam traumalin

30. Di bawah ini yang bukan faktor interseluler pertumbuhan
tumbuhan adalah ….
a. cahaya
d. air
b. gen
e. nutrisi
c. suhu
31. Di antara fungsi makhluk hidup di bawah ini yang erat kaitannya
dengan fungsi kelestarian jenis, yaitu ….
a. respirasi
d. inspirasi
b. reproduksi e. transportasi
c. ekskresi
32. Penyerbukan pada tumbuh-tumbuhan yang dibantu oleh burung
disebut ….
a. zodiogami
d. malakogami
b. entomogami e. ornitogami
c. kiroptogami
33. Proses pembentukan embrio dari sel telur tanpa pembuahan
disebut ….
a. parthenogenesis d. apogamik
b. amfiksis
e. neoteni
c. apomiksis
34. Tujuan mencangkok tumbuhan adalah ….
a.
menghasilkan keturunan yang mewarisi sifat gabungan
dari induk jantan dan betina
b.
menghasilkan spesies tumbuhan baru
c.
menghasilkan keturunan yang sama dengan induknya
d.
melindungi varitas liar supaya tidak punah
e.
menghasilkan spesies yang unggul

35.
Penyebaran alat perkembangbiakan entomokori terjadi pada
tumbuhan yang bijinya ….
a. kecil dan mengandung lemak
b. kecil dan ringan
c. dapat dimakan dan ringan
d. kecil dan mempunyai sayap
e. mempunyai rambut-rambut
B. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan benar!
1.
Mengapa tumbuhan yang diletakkan pada klinostat dan diputar,
arah pertumbuhan batangnya tetap mendatar?
2.
Para petani dalam menyebar benih padi tidak pernah
memperhatikan jatuhnya biji padi mereka di tanah. Apakah jika
padi itu jatuh terbalik atau sebaliknya akan menimbulkan masalah
terhadap arah pertumbuhan batang dan akar padi tersebut?
Jelaskanlah pendapatmu!
3.
Buktikanlah bahwa pertumbuhan akar dan batang masing-masing
dipengaruhi oleh gaya berat bumi dan matahari!
4.
Berdasarkan pengetahuan tentang difusi auksin pada batang
dan pengaruh cahaya, jelaskanlah pendapatmu jika pertumbuhan
batang tanaman pot diletakkan di dekat kaca akan membelok ke
luar?
5.
Apakah yang dimaksud dengan ….
a. penyerbukan
b. pembuahan
c. pemencaran
d. okulasi
e. stek
f. niktinasti
g. kemotaksis
h. geotropisme
i. endonom
j. esionom
k. higroskopis
6.
Pembiakan vegetatif berdasarkan ada tidaknya campur tangan
manusia dibedakan atas dua kelompok. Jelaskan beserta contohcontoh
yang termasuk pembiakan vegetatif alami!

7. Sebutkan keuntungan dan kerugian yang diperoleh Tanti apabila
menggunakan pembiakan vegetatif buatan dalam memperbanyak
tanaman Manilkara kauki (sawo kecik)!
8. Penyerbukan pada vanili harus dilakukan oleh manusia. Mengapa?
Faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan tumbuhan tidak
dapat mengadakan penyerbukan sendiri?
9. Tuliskan ciri-ciri tumbuhan yang pemencarannya dibantu oleh angin
(anemogami)!
10. Gambarkan alat-alat pembiakan generatif pada tumbuhan!
11. Pembiakan pada serangga dapat terjadi secara partenogenesis.
Coba Kalian jelaskan beserta contohnya!
12. Vegetatif berdasarkan
ada tidaknya campur tangan manusia
dibedakan atas dua kelompok. Jelaskan beserta contoh-contoh
yang termasuk vegetatif alami!
13. Tuliskan ciri-ciri tumbuhan yang pemencarannya dengan bantuan
air(hidrokori)!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>