Pencemaran Lingkungan

Pernahkah kalian berjalan-jalan di hutan dan menemukan sungau yang bersih? Sebuah sungai yang mengalir dan bersih merupakan suatu ekosistem (Gambar 11.1). Di dalamnya hidup berbagai organisme, misalnya tanaman air, ikan, udang, ganggang, dan organisme lainnya. Semua organisme tersebut saling berinteraksi dan saling membutuhkan. Manusia juga turut memanfaatkan komponen biotik dan abiotik dari sungai tersebut. Air menjadi kebutuhan pokok yang dimanfaatkan manusia. Ikan dan udang sebagai sumber makanan bagi manusia.

Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, daerah di sekitar sungai sering menjadi suatu permukiman padat penduduk. Banyak manusia yang tidak peduli akan lingkungannya. Mereka membuang sampah atau limbah rumah tangga ke sungai.

Pabrik-pabrik membuang limbahnya ke sungai. Sungai yang awalnya bersih menjadi kotor dan penuh bahan-bahan beracun yang membahayakan kesehatan organisme hidup (tumbuhan, hewan dan manusia). Bagaimanakah nasib organisme hidup dalam
sungai tersebut? Mungkin tidak ada lagi organisme yang hidup. Manusia pun tidak dapat memanfaatkan air sungai tersebut. Sungai yang semula sebagai sumber kehidupan, sekarang tidak berguna sama sekali. Apakah ini akan dibiarkan dan terjadi pada ekosistem yang lain? Marilah kita pelajari bab Pencemaran Lingkungan ini agar kita memiliki bekal pengetahuan untuk menjaga lingkungan dan ekosistem agar tetap berfungsi sebagaimana mestinya.

Standar Kompetensi

Mendeskripsikan proses pengolahan limbah organik (tumbuhan dan hewan)

Kompetensi Dasar

11.1. Mengidentifikasi ciri, sifat, macam polusi dan limbah.
11.2. Dampak polusi terhadap kesehatan manusia.
11.3. Mengolah limbah organik.

Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari Pencemaran Lingkungan, kalian diharapkan dapat memahami, menafsirkan, dan mengkomunikasikan pemahaman konsep tentang berbagai macam ciri, sifat, macam polusi dan limbah, pengelolahan dan manfaat limbah bagi tumbuhan, hewan, dan manusia.

Kata-Kata Kunci

Biogas Limbah anorganik
Daur ulang Limbah organik
Daya dukung Lingkungan
Daya lenting Pencemaran/polusi
Efek rumah kaca Sanitary landfill
Hujan asam Ozon
Insenerasi

11.1. Ciri, sifat, macam polusi dan limbah

Lingkungan terdiri dari komponen biotik dan abiotik. Jika komponen biotik berada dalam komposisi yang proporsional antara tingkat trofik dengan komponen abiotik yang mendukung kehidupan komponen biotik, lingkungan tersebut berada dalam keseimbangan atau stabil.

Contoh lingkungan aIami yang seimbang adalah hutan. Di hutan, tumbuhan sebagai produsen ada dalam jumlah yang mencukupi untuk perlindungan dan makanan bagi konsumen tingkat pertama, seperti burung pemakan tumbuhan, rusa dan monyet. Tumbuhan di hutan dapat berkembang dengan baik karena kondisi lingkungan abiotik yang sesuai. Hewan sebagai konsumen tingkat pertama berada dalam jumlah yang mencukupi untuk kehidupan konsumen tingkat kedua, misalnya harimau, musang, dan ular. Jumlah masing-masing komponen biotik tersebut tidak mendominasi satu dengan yang lainnya sehingga terbentuk rantai makanan yang seimbang.

Keseimbangan lingkungan tidak statis, artinya dapat terjadi penurunan atau kenaikan populasi tiap jenis tumbuhan dan hewan serta berbagai komponen biotik. Perubahan komponen biotik dan abiotik dalam batas-batas tertentu tidak mengganggu keseimbangan lingkungan. Sebagai contoh jumlah rusa yang berkurang karena diburu manusia tidak berpengaruh terhadap kelangsungan hidup pemangsanya, misalnya harimau. Selama masih ada hewan lain di hutan, seperti kelinci, tikus, dan ayam hutan maka harimau akan memangsa hewan-hewan tersebut. Jumlah rusa juga dapat berkembang kembali selama perburuan tidak dilakukan terus-menerus.

Kemampuan hutan mendukung kelangsungan hidup harimau dengan adanya hewan mangsa adalah contoh daya dukung
lingkungan. Daya dukung lingkungan adalah kemampuan lingkungan mendukung kehidupan berbagai makhluk hidup di
dalamnya. Bertambahnya kembali jumlah rusa setelah berkurangnya perburuan adalah contoh daya lenting lingkungan.
Daya lenting lingkungan adalah kemampuan lingkungan untuk pulih kembali pada keadaan seimbang jika mengalami perubahan
atau gangguan. Dengan demikian, lingkungan mampu menanggulangi perubahan-perubahan selama perubahan tersebut masih dalam daya dukung dan daya lentingnya.

Keseimbangan lingkungan dapat menjadi rusak, artinya lingkungan menjadi tidak seimbang jika terjadi perubahan yang
melebihi daya dukung dan daya lentingnya. Perubahan lingkungan dapat terjadi karena alam maupun aktivitas manusia.

Perubahan lingkungan yang disebabkan oleh manusia dan berakibat pada alam, misalnya penebangan hutan. Penebangan
hutan secara besar-besaran mengakibatkan fungsi hutan sebagai penahan air hujan akan berkurang.

Hilangnya pohon-pohon dapat mengakibatkan tidak adanya perakaran yang dapat menahan air hujan. Akibatnya hanya sedikit air yang terserap oleh tanah sehingga sebagian besar air akan mengalir sebagai air permukaan yang dapat mengakibatkan tanah longsor dan banjir.

Banjir lumpur panas Sidoarjo, Jawa Timur merupakan kasus menyemburnya lumpur panas yang diduga diakibatkan oleh aktivitas pengeboran untuk eksplorasi gas. Semburan lumpur tersebut menurut data dari pertama kali mencapai volume 5000 meter kubik perhari. Kemudian meningkat menjadi 40.000 meter kubik per hari, dan sekarang ini mencapai 135.000 meter kubik per hari. Sejumlah upaya telah dilakukan untuk menangulangi luapan lumpur, diantaranya dengan membuat tanggul untuk membendung area genangan lumpur. Namun tanggul akhirnya jebol. Menurut Menteri kelautan dan perikanan, kerugian oleh banjir lumpur panas tersebut mengakibatkan produksi tambak pada lahan seluas 989 hektar di dua kecamatan dan 1600 hektar di pesisir Sidoarjo mengalami kegagalan panen, sehingga kerugian diperkirakan mencapai 10.9 milyar per tahun.

Kegiatan manusia mengubah lingkungan dilakukan karena adanya kebutuhan hidup. Kebutuhan ini akan menjadi semakin
meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk. Upaya pemenuhan kebutuhan menusia dipengaruhi oleh perkembangan
budaya. Ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai hasil perkembangan budaya digunakan untuk mengembangkan berbagai
industri yang dapat memenuhi kebutuhan manusia, antara lain sebagai berikut:

1. Industri primer, mengupayakan kebutuhan dari alam secara langsung, seperti pertanian, pertambangan, perkebunan,
kehutanan, peternakan, dan perikanan.
2. Industri sekunder, mengolah hasil industri primer seperti industri makanan, industri tekstil, industri kertas, industri pengolahan minyak bumi, dan industri logam.
3. Industri tersier, menghasilkan jasa atau pelayanan seperti industri informasi dan komunikasi, transportasi, dan
perdagangan. Perkembangan industri tidak hanya mengubah lingkungan tetapi juga menimbulkan pencemaran.
Berbagi industri selain menghasilkan produk yang digunakan manusia juga menghasilkan buangan atau limbah.

Limbah adalah suatu benda atau zat yang dapat mengandung berbagai bahan yang membahayakan kehidupan manusia, hewan, serta makhluk hidup lainnya. Banyak limbah dihasilkan dari aktivitas manusia, termasuk industri dan kegiatan rumah tangga. Masuknya limbah rumah tangga dan industri ke dalam sungai menyebabkan pencemaran atau polusi air sungai. Pencemaran adalah perubahan keadaan lingkungan, baik secara fisik, kimia, atau pun biologi, meliputi udara, daratan, dan air yang tidak diinginkan.

Makhluk hidup, zat, energi, atau komponen penyebab pencemaran disebut polutan atau pencemar. Contoh polutan
makhluk hidup atau polutan biologi ialah bakteri penyebab penyakit pada sampah dan kotoran. Polutan zat kimia disebut polutan kimia, contohnya limbah yang mengandung logam merkuri (Hg), gas CO2, gas CFC, debu asbes, dan pestisida. Sedangkan polutan energi disebut polutan fisik, misalnya panas dan radiasi. Pencemaran berdasarkan bentuknya terbagi menjadi empat macam, yaitu pencemaran udara, pencemaran air, pencemaran tanah, dan pencemaran suara.

11.1.1. Pencemaran Udara

Pencemaran udara berhubungan dengan pencemaran atmosfer bumi. Atmosfer merupakan lapisan udara yang menyelubungi bumi sampai ketinggian 300 km. Sumber pencemaran udara berasal dari kegiatan alami dan aktivitas manusia seperti tercantum pada Tabel 11.1

Tabel 11.1 Bahan pencemar udara dan sumbernya

No Polutan Dihasilkan dari 1 2 3 4 Karbon dioksida (CO2) Sulfur dioksida (SO2) nitrogen monoksida (NO) Karbonmonoksida (CO) Kloro Fluoro Carbon (CFC) Pemakaian bahan bakar fosil (minyak bumi atau batubara), pembakaran gas alam dan hutan, respirasi, serta pembusukan. Pemakaian bahan bakar fosil (minyak bumi atau batubara), misalnya gas buangan kendaraan. Pemakaian bahan bakar fosil (minyak bumi atau batubara) dan gas buangan kendaraan bermotor yang pembakarannya tidak sempurna. Pendingin ruangan, lemari es, dan perlengkapan yang menggunakan penyemprot aerosol.

Sumber pencemaran udara di setiap wilayah atau daerah berbeda-beda. Sumber pencemaran udara berasal dari kendaraan bermotor, kegiatan rumah tangga, dan industri (Gambar 11.3).

417

Gambar 11.3. Pencemaran udara dari aktivitas industri.

Dampak pencemaran udara dapat berskala mikro dan makro. Pada skala mikro atau lokal, pencemaran udara berdampak pada kesehatan manusia. Misalnya, udara yang tercemar gas karbon monoksida (CO) jika dihirup seseorang akan menimbulkan keracunan, jika orang tersebut terlambat ditolong dapat mengakibatkan kematian. Dampak pencemaran udara berskala makro, misalnya fenomena hujan asam dalam skala regional, sedangkan dalam skala global adalah efek rumah kaca dan penipisan lapisan ozon.

Karbon dioksida (CO2)

Pembakaran bahan bakar fosil seperti batubara, minyak, dan gas alam telah lama dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan manusia terhadap energi. Misalnya untuk berbagai keperluan rumah tangga, industri, dan pertanian. Ketika bahan bakar minyak tersebut dibakar, karbon dioksida dilepaskan ke udara. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa jumlah karbon dioksida yang dilepaskan ke udara terus mengalami peningkatan. Apakah dampak peningkatan CO2 terhadap lingkungan?

Karbon monoksida (CO)

Gas karbon monoksida (CO) merupakan gas yang tidak berbau, tidak berasa, dan tidak stabil. Karbon monoksida yang berada di kota besar sebagian besar berasal dari pembuangan gas kendaraan bermotor yang gas-gas pembakarannya tidak sempurna. Selain itu, karbon monoksida dapat berasal dari pembakaran bahan bakar fosil serta proses industri.

Karbon monoksida dalam tubuh manusia lebih cepat berikatan dengan hemoglobin daripada oksigen. Jika di udara terdapat karbon

monoksida, oksigen akan kalah cepat berikatan dengan hemoglobin. Beberapa orang akan menderita defisiensi oksigen dalam jaringan tubuhnya ketika haemoglobin darahnya berikatan dengan karbon monoksida sebesar 5%. Seorang perokok haemoglobin darahnya sering ditemukan mengandung karbon monoksida lebih dari 10%.

Defisiensi oksigen dalam tubuh dapat menyebabkan seseorang menderita sakit kepala dan pusing. Kandungan karbon monoksida yang mencapai 0.1.% di udara dapat mengganggu metabolisme tubuh organisme. Oleh karena itu, ketika memanaskan mesin kendaraan di dalam garasi sebaiknya pintu garasi dibuka agar gas CO yang terbentuk tidak terakumulasi di dalam ruangan dan terhirup.

Sulfur dioksida

Sulfur dioksida dilepaskan ke udara ketika terjadi pembakaran bahan bakar fosil dan pelelehan biji logam. Konsentrasi SO2 yang masih diijinkan ialah antara 0.3 sampai 1.0 mg m-3. Akan tetapi, di daerah yang dekat dengan industri berat, konsentrasi senyawa tersebut menjadi lebih tinggi, yaitu 3.000 mg m-3 .

Peningkatan konsentrasi sulfur di atmosfer dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia, terutama menyebabkan penyakit bronkitis, radang paru-paru (pneumonia), dan gagal jantung. Partikel-partikel ini biasanya sulit dibersihkan bila sudah mencapai alveoli sehingga menyebabkan iritasi dan mengganggu pertukaran gas.

Pencemaran sulfur (sulfur oksida) di sekitar daerah pencairan tembaga dapat menyebabkan kerusakan pada vegetasi hingga mencapai jarak beberapa kilometer jauhnya. Tumbuhan mengabsorbsi sulfur dioksida dari udara melalui stomata. Tingginya konsentrasi sulfur dioksida di udara seringkali menimbulkan kerusakan pada tanaman pertanian dan perkebunan.

Nitrogen oksida

Nitrogen oksida memainkan peranan penting di dalam penyusunan jelaga fotokimia. Nitrogen dioksida dihasilkan oleh gas buangan kendaraan bermotor. Peroksiasil nitrat yang dibentuk di dalam jelaga sering menyebabkan iritasi pada mata dan paru-paru. Selain itu, bahan polutan tersebut dapat merusak tumbuhan.

Hujan asam

Dua gas yang dihasilkan dari pembakaran mesin kendaraan serta pembangkit listrik tenaga disel dan batubara yang utama adalah sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen dioksida (NO2). Gas yang dihasilkan tersebut bereaksi di udara membentuk asam yang jatuh ke bumi bersama dengan hujan dan salju. Misalnya, sulfur dioksida berreaksi dengan oksigen membentuk sulfur trioksida. 2 SO2 + O2

2 SO3

Sulfur trioksida kemudian bereaksi dengan uap air membentuk asam sulfat. SO3 + H2O H2SO4

Uap air yang telah mengandung asam ini menjadi bagian dari awan yang akhirnya turun ke bumi sebagai hujan asam atau salju asam.

Hujan asam dapat mengakibatkan kerusakan hutan, tanaman pertanian, dan perkebunan. Hujan asam juga akan mengakibatkan berkaratnya benda-benda yang terbuat dari logam, misalnya jembatan dan rel kereta api, serta rusaknya berbagai bangunan. Selain itu, hujan asam akan menyebabkan penurunan pH tanah, sungai, dan danau, sehingga mempengaruhi kehidupan organisme tanah, air, serta kesehatan manusia.

Efek rumah kaca (green house effect)

Efek rumah kaca merupakan gejala peningkatan suhu dipemukaan bumi yang terjadi karena meningkatnya kadar CO2 (karbon dioksida) di atmosfer. Gejala ini disebut efek rumah kaca karena diumpamakan dengan fenomena yang terjadi di dalam rumah kaca.

Pada rumah kaca, sinar matahari dapat dengan mudah masuk ke dalamnya. Sebagian sinar matahari tersebut digunakan oleh tumbuhan dan sebagian lagi dipantulkan kembali ke arah kaca. Sinar yang dipantulkan ini tidak dapat keluar dari rumah kaca dan mengalami pemantulan berulang-ulang. Energi yang dihasilkan meningkatkan suhu rumah kaca sehingga rumah kaca menjadi panas.

Di bumi, radiasi panas yang berasal dari matahari ke bumi diumpamakan seperti menembus dinding kaca rumah kaca. Radiasi panas tersebut tidak diserap seluruhnya oleh bumi. Sebagian radiasi dipantulkan oleh benda-benda yang berada di permukaan bumi ke ruang angkasa. Radiasi panas yang dipantulkan kembali ke ruang angkasa merupakan radiasi infra merah. Sebagian radiasi infra merah tersebut dapat diserap oleh gas penyerap panas (disebut: gas rumah kaca). Gas penyerap panas yang paling penting di

atmosfer adalah H2O dan CO2. Seperti kaca dalam rumah kaca, H2O dan CO2 tidak dapat menyerap seluruh radiasi infra merah sehingga sebagian radiasi tersebut dipantulkan kembali ke bumi. Keadaan inilah yang menyebabkan suhu di permukaan bumi meningkat atau yang disebut dengan pemanasan global (global warning).

Kenaikan suhu menyebabkan mencairnya gunung es di kutub utara dan selatan. Kondisi ini mengakibatkan naiknya permukaan air laut, sehingga menyebabkan berbagai kota dan wilayah pinggir laut akan tenggelam, sedangkan daerah yang kering menjadi semakin kering. Efek rumah kaca menimbulkan perubahan iklim, misalnya suhu bumi meningkat rata-rata 3°C sampai 4°C pada abad ke-21, kekeringan atau curah hujan yang tinggi di berbagai tempat dapat mempengaruhi produktivitas budidaya pertanian, peternakan, perikanan, dan kehidupan manusia.

Penipisan lapisan ozon

Lapisan ozon (O3) adalah lapisan gas yang menyelimuti bumi pada ketinggian ± 30 km diatas bumi. Lapisan ozon terdapat pada lapisan atmosfer yang disebut stratosfer. Lapisan ozon ini berfungsi menahan 99% radiasi sinar Ultra violet (UV) yang dipancarkan ke matahari.

Gas CFC (Chloro Fluoro Carbon) yang berasal dari produk aerosol (gas penyemprot), mesin pendingin dan proses pembuatan plastik atau karet busa, jika sampai ke lapisan stratosfer akan berikatan dengan ozon. CFC yang berikatan dengan ozon menyebabkan terurainya molekul ozon sehingga terjadi kerusakan lapisan ozon, berupa penipisan lapisan ozon.

Penipisan lapisan ozon di beberapa tempat telah membentuk lubang seperti di atas Antartika dan kutub Utara. Lubang ini akan mengurangi fungsi lapisan ozon sebagai penahan sinar UV. Sinar UV yang sampai ke bumi akan menyebakan kerusakan pada kehidupan di bumi. Kerusakan tersebut antara lain gangguan pada rantai makanan di laut, serta kerusakan tanaman budidaya pertanian, perkebunan, serta mempengaruhi kesehatan manusia.

Radiasi

Makhluk hidup sudah lama menjadi objek dari bermacammacam bentuk radiasi. Misalnya, radiasi matahari yang mengandung sinar ultraviolet dan gelombang infra merah. Selain berasal dari matahari, radiasi dapat juga berasal dari luar angkasa, berupa sinar kosmis dan mineral-mineral radioaktif dalam batubatuan. Akan tetapi bentuk radiasi akibat aktivitas manusia akan menimbulkan polusi.

Bentuk-bentuk radiasi berupa kegiatan uji coba bom nuklir dan penggunaan bom nuklir oleh manusia dapat berupa gelombang elektromagnetik dan partikel subatomik. Kedua macam bentuk radiasi tersebut dapat mengancam kehidupan makhluk hidup.

Dampak radiasi dapat dilihat pada tingkat genetik dan sel tubuh. Dampak genetik pada interfase menyebabkan terjadinya perubahan gen pada AND atau dikenal sebagai mutasi gen. Dampak somatik (sel tubuh) adalah seseorang memiliki otak yang lebih kecil daripada ukuran normal, cacat mental, dan gangguan fisik lainnya serta leukemia.

11.1.2. Pencemaran tanah Pencemaran tanah berasal dari limbah rumah tangga, kegiatan pertanian, dan pertambangan.

Limbah rumah tangga

Dalam rumah tangga, air digunakan untuk minum, memasak, mencuci, dan berbagai keperluan lainnya. Setelah digunakan, air dibuang atau mengalir ke selokan. Selanjutnya, air tersebut mengalir ke sungai, danau, dan laut. Air buangan rumah tangga atau dikenal sebagai limbah domestik mengandung 95% sampai 99% air dan sisanya berupa limbah organik .

Gambar 11.4. Pencemaran dari limbah organik.

Sebagian dari air buangan terdiri atas komponen nitrogen, seperti urea dan asam urik yang kemudian akan terurai menjadi amoniak dan nitrit. Pada perairan yang dimasuki oleh limbah rumah

tangga biasanya akan menyebabkan populasi ganggang menjadi meningkat pesat sebagai akibat banyaknya persediaan nutrien seperti tampak pada Gambar 11.4.

Sebaliknya, persediaan oksigen dalam perairan tersebut semakin berkurang. Di sana dapat ditemukan Tubifex sp., hewan air yang mampu hidup dengan baik di bawah kondisi defisiensi oksigen. Semakin ke hilir atau ke arah muara, limbah organik lebih terurai secara sempurna sehingga kandungan oksigen dalam air kembali normal. Hewan dan tumbuhan air dapat tumbuh dengan baik.

Selain itu limbah rumah tangga terpenting adalah sampah. Sampah dalam jumlah banyak seperti di kota-kota besar, berperan besar dalam pencemaran tanah, air, dan udara. Tanah yang mengandung sampah diatasnya akan menjadi tempat hidup berbagai mikroorganisme penyebab penyakit. Pencemaran oleh mikroorganisme dan polutan lainnya dari sampah akan mengurangi kualitas air tanah. Air tanah yang menurun kualitasnya dapat terlihat dari perubahan fisiknya, misalnya bau, warna, dan rasa, bahkan terdapat lapisan minyak. Beberapa jenis sampah, seperti plastik dan logam sulit terurai sehingga berpengaruh pada kemampuan tanah menyerap air.

Limbah pertanian

Dalam kegiatan pertanian, penggunaan pupuk buatan, zat kimia pemberantas hama (pestisida), dan pemberantas tumbuhan pengganggu (herbisida) dapat mencemari tanah, dan air.

Herbisida merupakan pestisida yang 40% produknya sudah digunakan di dunia. Para petani menggunakan herbisida untuk mengontrol atau mematikan sehingga tanaman pertanian dapat tumbuh dengan baik. Percobaan pada kelinci dan kera menggunakan dosis herbisida diatas 25% menunjukkan bahwa pemberian makanan dan minuman yang dicampur herbisida dapat menyebabkan organ hati dan ginjal hewan tersebut mudah terkena tumor dan kanker.

Fungisida merupakan pestisida yang digunakan untuk mengontrol atau memberantas cendawan (fungi) yang dianggap sebagai wabah atau penyakit. Penyemprotan fungisida dapat melindungi tanaman pertanian dari serangan cendawan parasit dan mencegah biji (benih) menjadi busuk di dalam tanah sebelum berkecambah. Akan tetapi, sejak metal merkuri sangat beracun terhadap manusia, biji-bijian yang telah mendapat perlakuan fungisida yang mengandung metal merkuri tidak pernah

dimanfaatkan untuk bahan makanan. Fungisida dapat memberi dampak buruk terhadap lingkungan.

Insektisida merupakan bahan kimia yang digunakan untuk membunuh serangga hama. Jenis pestisida ini sudah digunakan manusia sejak lama. Pestisida dan herbisida memiliki sifat sulit terurai dan dapat bertahan lama di dalam tanah. Residu pestisida dan herbisida ini membahayakan kehidupan organisme tanah. Senyawa organoklorin utama di dalam insektisida adalah DDT (Dikloro Difenil Trikloroetana) dapat membunuh mikroorganisme yang sangat penting bagi proses pembusukan, sehingga kesuburan tanah terganggu Tanah yang tercemar pupuk kimiawi, pestisida, dan herbisida dapat mencemari sungai karena zat-zat tersebut dapat terbawa air hujan atau erosi.

Penggunaan pupuk buatan secara berlebihan menyebabkan tanah menjadi masam, yang selanjutnya berpengaruh terhadap produktivitas tanaman. Tanaman menjadi layu, berkurang produksinya, dan akhirnya mati. Pencemaran tanah oleh pestisida dan herbisida terjadi saat dilakukan penyemprotan. Sisa-sisa penyemprotan tersebut akan terbawa oleh air hujan, akhirnya mengendap di tanah. Penggunaan bahan-bahan kimiawi secara terus menerus akan mengakibatkan kerusakan tekstur tanah, tanah mengeras, dan akan retak-retak pada musim kemarau (Gambar 11.5)

Gambar 11.5. Pencemaran tanah akibat aktivitas pertanian.

Pertambangan

Aktivitas penambangan bahan galian juga dapat menimbulkan pencemaran tanah. Salah satu kegiatan penambangan yang memiliki pengaruh besar mencemarkan tanah adalah penambangan

emas. Pada penambangan emas, polusi tanah terjadi akibat penggunaan merkuri (Hg) dalam proses pemisahan emas dari bijinya. Merkuri tergolong sebagai bahan berbahaya dan beracun yang dapat mematikan tumbuhan, organisme tanah, dan mengganggu kesehatan manusia.

11.1.3. Pencemaran air Pencemaran air meliputi pencemaran di perairan darat, seperti danau dan sungai, serta perairan laut. Sumber pencemaran air, misalnya pengerukan pasir, limbah rumah tangga, industri, pertanian, pelebaran sungai, pertambangan minyak lepas pantai, serta kebocoran kapal tanker pengangkut minyak (Gambar 11.6).

a) b)

c) d) Gambar 11.6. Bentuk-bentuk pencemaran perairan:

a. pengerukan pasir b. limbah rumah tangga, c. industri, d. pertambangan emas. Limbah rumah tangga

Limbah rumah tangga seperti deterjen, sampah organik, dan anorganik memberikan andil cukup besar dalam pencemaran air

425

sungai, terutama di daerah perkotaan (Gambar 11.7). Sungai yang tercemar deterjen, sampah organik dan anorganik yang mengandung miikroorganisme dapat menimbulkan penyakit, terutama bagi masyarakat yang mengunakan sungai sebagai sumber kehidupan sehari-hari. Proses penguraian sampah dan deterjen memerlukan oksigen sehingga kadar oksigen dalam air dapat berkurang. Jika kadar oskigen suatu perairaan turun sampai kurang dari 5 mg per liter, maka kehidupan biota air seperti ikan terancam.

Gambar 11.7. Pencemaran dari limbah rumah tangga di perkotaan

Limbah industri

Limbah industri yang mencemarkan air dapat berupa polutan sampah organik dan anorganik. Polutan tersebut berasal dari pabrik pengolahan hasil ternak, polutan logam berat, dan polutan panas yang antara lain berasal dari air pendingin industri. Limbah industri dapat membunuh mikroorganisme air. Akan tetapi, beberapa pabrik tidak mampu menghilangkan unsur kimia atau racun yang dikandungnya. Limbah industri yang dapat mencemari air bergantung pada jenis industrinya. Limbah tersebut berupa organik, anorganik, dan panas.

Sebagian besar industri membuang limbah cairnya ke perairan sungai tanpa diolah terlebih dahulu. Untuk mengendalikan pencemaran air oleh industri, pemerintah membuat aturan bahwa limbah industri harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke sungai. Limbah cair yang telah diolah, sisa olahannya pun masih mengandung bahan beracun dan berbahaya seperti merkuri (Hg), timbal (Pb), krom (Cr), tembaga (Cu), seng (Zn), dan nikel (Ni).

Merkuri dapat berasal dari air limbah penggilingan kertas (pulp = bubur kertas) dan pabrik yang membuat vinil plastik atau berasal dari air hujan. Kebanyakan merkuri terakumulasi di dasar perairan, seperti sungai, danau, dan lautan, kemudian diuraikan menjadi metal merkuri oleh metan yang diproduksi oleh bakteri. Metil merkuri bersifat sangat beracun dan dapat diabsorpsi oleh makhluk hidup

yang berada di perairan. Ikan yang tercemar oleh merkuri jika dikonsumsi oleh ibu yang hamil, keturunannya dapat menderita cacat karena kerusakan pada saraf, bahkan dapat mengakibatkan kematian.

Tembaga dapat masuk ke perairan atau sungai melalui pembuangan air limbah yang berasal dari bijih atau cairan tembaga yang dibuang oleh penambangan tembaga. Tembaga merupakan logam yang sangat beracun. Kadar tembaga yang kurang dari 1 ppm pada perairan dapat mematikan ikan dan hewan air lainnya. Ikan mengabsorbsi tembaga melalui insangnya. Di perairan yang mengandung konsentrasi oksigen terlarut rendah, gerakan membuka dan menutupnya insang berlangsung lebih cepat sehingga proses kematian ikan akibat polusi tembaga menjadi lebih cepat.

Pembakaran bensin pada mesin pabrik menghasilkan lebih dari 80% timah di udara. Timah yang ditambahkan ke dalam bensin adalah timah tetraetil (TEL) yang berfungsi sebagai senyawa anti knock. Di daerah pedesaan, kandungan timah di udara yang berasal dari kegiatan manusia sekitar 20%, sedangkan di kota-kota besar lebih dari 50%. Orang yang bekerja memperbaiki kendaraan bermotor di ruangan tertutup, dalam darahnya akan mengandung konsentrasi timah yang lebih tinggi dibandingkan bagi mereka yang bekerja pada ruangan yang terbuka.

Jika suatu perairan mengandung timah yang berasal dari tangki atau pipa saluran air minum dengan konsentrasi lebih dari 0.5 ppm, maka logam tersebut dapat bersifat racun bagi kehidupan ikan di perairan. Hanya beberapa ganggang dan serangga yang mampu hidup di perairan tersebut. Jika ikan yang tercemar tersebut dikonsumsi manusia, akan membahayakan kesehatan manusia.

Limbah pertanian

Kegiatan pertanian dapat menyebabkan pencemaran air terutama karena penggunaan pupuk buatan, pestisida, dan herbisida. Pencemaran air oleh pupuk, pestisida, dan herbisida dapat meracuni organisme air, seperti plankton, ikan, hewan yang meminum air tersebut dan juga manusia yang menggunakan air tersebut untuk kebutuhan sehari-hari. Residu pestisida seperti DDT yang terakumulasi dalam tubuh ikan dan biota lainnya dapat terbawa dalam rantai makanan ke tingkat trofil yang lebih tinggi, yaitu manusia.

Selain itu, masuknya pupuk pertanian, sampah, dan kotoran ke bendungan, danau, serta laut dapat menyebabkan meningkatnya zat-zat hara di perairan. Peningkatan tersebut mengakibatkan pertumbuhan ganggang atau enceng gondok menjadi pesat (blooming).

Pertumbuhan ganggang atau enceng gondok yang cepat dan kemudian mati membutuhkan banyak oksigen untuk menguraikannya. Kondisi ini mengakibatkan kurangnya oksigen dan mendorong terjadinya kehidupan organisme anaerob. Fenomena ini disebut sebagai eutrofikasi.

Limbah pertambangan

Pencemaran minyak di laut terutama disebabkan oleh limbah pertambangan minyak lepas pantai dan kebocoran kapal tanker yang mengangkut minyak. Setiap tahun diperkirakan jumlah kebocoran dan tumpahan minyak dari kapal tanker ke laut mencapai

3.9 juta ton sampai 6.6 juta ton. Tumpahan minyak merusak kehidupan di laut, diantaranya burung dan ikan. Minyak yang menempel pada bulu burung dan insang ikan mengakibatkan kematian hewan tersebut. 11.1.4. Pencemaran Suara (Kebisingan) Ancaman serius lain bagi kualitas lingkungan manusia adalah pencemaran suara. Bunyi atau suara yang dapat mengganggu dan merusak pendengaran manusia disebut kebisingan. Tingkat kebisingan terjadi bila intensitas bunyi melampui 50 desibel (db). Oleh karena kebisingan dapat mengganggu lingkungan, kebisingan dapat dimasukkan sebagai pencemaran.

Suara dengan intensitas tinggi, seperti yang dikeluarkan oleh mesin industri, kenderaan bermotor, dan pesawat terbang secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama dapat mengganggu manusia, bahkan menyebabkan cacat pendengaran yang permanen. Oleh karena itu, bunyi dapat dianggap sebagai bahan pencemar serius yang mengganggu kesehatan manusia.

11.2. Dampak polusi terhadap kesehatan manusia 1. Defisiensi oksigen dalam tubuh dapat menyebabkan seseorang sakit kepala dan pusing. Udara yang tercemar gas karbon monoksida (CO) jika dihirup seseorang akan menimbulkan keracunan, jika orang tersebut terlambat ditolong dapat mengakibatkan kematian. Kandungan karbon monoksida yang mencapai 0.1.% di udara dapat mengakibatkan kematian.

2. Penipisan lapisan ozon dapat menyebabkan terjadinya kanker kulit (terutama untuk orang yang berkulit putih) dan kerusakan mata (katarak). 3. Limbah rumah tangga yang dibuang ke sungai dapat menimbulkan berbagai macam penyakit, diantaranya ialah penyakit kulit, kolera, dan disentri. 4. Ketika menghirup udara yang tercemar timah, maka timah dapat terabsorpsi kedalam darah dan terakumulasi di dalam hati, ginjal, dan tulang yang akan mengganggu proses metabolisme tubuh, bahkan dapat menimbulkan kematian. 5. Konsentrasi merkuri tertinggi terdapat di ginjal, hati, dan otak, sehingga dapat menyebabkan manusia mengalami kehilangan sensasi, menjadi buta yang berasal dari ikan yang dikonsumsi dari teluk Minamata di Jepang, bahkan dapat menyebabkan cacat janin pada ibu hamil yang mengkonsumsi ikan tersebut. 6. Kadmium yang masuk ke tubuh manusia melalui udara (pernafasan) menyebabkan kerusakan ginjal dan meningkatnya tekanan darah (hipertensi). Parameter kualitas limbah

Pencemaran lingkungan dapat diukur dengan parameter kualitas limbah. Parameter tersebut digunakan untuk mengetahui tingkat pencemaran yang sudah terjadi di lingkungan. Beberapa parameter kimia kualitas air yang perlu diketahui antara lain adalah BOD, COD, DO, dan pH. Pengukuran fisik dapat dilakukan dengan memperhatikan warna, bau, dan rasa air sungai, kecepatan laju air dengan bola pingpong, penetrasi cahaya, dalam dan lebar sungai dan lainnya.

Manakala pengukuran biologi dilakukan dengan menghitung indeks keanekaragaman dan kelimpahan organisme air seperti plankton, benthos, serangga air, moluska, ikan dan lainnya sehingga diperoleh data yang valid. Pengukuran ketiga metode (faktor fisik, kimia dan biologi) merupakan metode paling tepat dan akurat dalam menentukan parameter kualitas perairan.

BOD (Biochemical oxygen demand)

BOD adalah ukuran kandungan oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroorganisme yang hidup di perairan untuk menguraikan bahan organik yang ada di dalamnya. Apabila kandungan oksigen dalam air menurun, maka kemampuan mikroorganisme aerobik untuk menguraikan bahan organik tersebut juga menurun.

BOD ditentukan dengan mengukur jumlah oksigen yang digunakan oleh mikroorganisme selama kurun waktu dan pada temperatur tertentu (biasanya lima hari pada suhu 20°C). Nilai BOD diperoleh dari selisih oksigen terlarut awal dengan oksigen terlarut akhir. BOD merupakan ukuran utama kekuatan limbah cair.

COD (Chemical oxygen demand)

COD merupakan jumlah oksigen yang diperlukan agar bahan buangan yang ada didalam air dapat teroksidasi melalui reaksi kimiawi. Indikator ini umumnya digunakan pada limbah industri.

DO (Dissolved oxygen)

DO adalah kadar oksigen terlarut dalam air. Penurunan DO dapat diakibatkan oleh pencemaran air yang mengandung bahan organik sehingga menyebabkan organisme air terganggu. Semakin kecil nilai DO dalam air, tingkat pencemarannya semakin tinggi. DO penting dan berkaitan dengan sistem saluran pembuangan maupun pengolahan limbah.

pH

Nilai pH limbah cair adalah ukuran kemasaman atau kebasaan limbah. Air yang tidak tercemar memiliki pH antara 6.5-7.5. Sifat air bergantung pada besar kecilnya pH. Air yang memiliki pH lebih kecil dari pH normal akan bersifat masam, sedangkan air yang memilki pH lebih besar dari pH normal akan bersifat basa. Perubahan pH air tergantung pada polutan air tersebut. Air yang memiliki pH lebih kecil atau lebih besar dari kisaran pH normal tidak sesuai untuk kehidupan bakteri asidofil atau organisme lainnya.

Penanganan limbah

Kegiatan yang dilakukan makhluk hidup banyak menghasilkan limbah. Produksi limbah yang berlebihan dapat menimbulkan masalah bagi lingkungan. Berdasarkan komponen penyusunnya, limbah dibedakan menjadi dua jenis, yaitu limbah organik dan limbah anorganik. Limbah organik ialah limbah yang dapat diuraikan oleh organisme detrivor karena berasal dari bahan-bahan organik. Contoh limbah organik ialah limbah yang berasal dari tumbuhan dan hewan, misalnya kulit pisang, atau kotoran ayam.

Limbah anorganik adalah limbah yang tidak dapat diuraikan oleh organisme detrivor atau diuraikan tetapi dalam jangka waktu yang lama. Bahan yang diuraikan berasal dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbaruhi, seperti mineral, minyak bumi dan berasal dari proses industri, seperti botol, plastik, dan kaleng. Limbah organik dapat dimanfaatkan baik secara langsung (contohnya untuk

makanan ternak) maupun secara tidak langsung melalui proses daur ulang (contohnya pengomposan dan biogas).

Limbah anorganik yang dapat di daur ulang, antara lain adalah plastik, logam, dan kaca. Namun, limbah yang dapat didaur ulang tersebut harus diolah terlebih dahulu dengan cara sanitary landfill, pembakaran (incineration), atau penghancuran (pulverisation).

11.3. Pengelolaan Limbah Organik Pengelolaan limbah yang berasal dari tumbuhan dapat dijadikan sebagai makanan ternak, kompos, dan di daur ulang sebagai bahan kerajinan.

11.3.1. Makanan Ternak Di Indonesia, sampah organik seperti sayur-sayuran (contohnya wortel, kubis, kol, kentang, selada air, kangkung, dan sawi) ataupun buah-buahan (kulit pisang, kulit nenas, kulit jeruk) biasanya dimanfaatkan untuk makanan kelinci, kambing, ayam, atau itik. Hal ini sangat menguntungkan karena selain mengurangi jumlah sampah, juga mengurangi biaya pakan untuk hewan ternak. Sampah organik yang mudah rusak dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak. Namun, sampah organik ini harus dibersihkan dan dipilih terlebih dahulu sebelum dikonsumsi ternak. Penanganan sampah organik terpisah dengan sampah anorganik Jika sampah organik bercampur dengan sampah yang mengandung logam-logam berat, maka dapat terakumulasi di dalam tubuh ternak yang akan membahayakan manusia pengkonsumsi daging ternak tersebut.

11.3.2. Pengomposan (Composting) Pengomposan merupakan upaya pengelolaan limbah dari tumbuh-tumbuhan dengan menggunakan prinsip penguraian bahanbahan organik menjadi bahan-bahan anorganik oleh aktivitas organisme. Proses pengomposan menghasilkan kompos yang dapat menyuburkan tanah. Organisme yang berperan dalam proses pengomposan ialah bakteri, cendawan, khamir, dan hewan seperti serangga, serta cacing. Agar pertumbuhan organisme dalam pengomposan optimum maka diperlukan beberapa kondisi yang sesuai, diantaranya ialah campuran nutrisi yang yang seimbang, suhu, kelembaban, udara, dan kandungan oksigen yang cukup. Unsur hara dalam pupuk kompos lebih tahan lama jika dibandingkan dengan pupuk buatan. Sistem pengomposan memilki beberapa keuntungan, diantaranya adalah:

• Kompos merupakan jenis pupuk yang ekologis dan tidak

merusak lingkungan.

• Bahan yang dipakai tersedia. • Masyarakat dapat membuatnya sendiri (tidak memerlukan peralatan yang mahal) 11.3.3. Daur Ulang (Re-Cycle) Masyarakat Indonesia secara tradisional memiliki kebiasaan melakukan daur ulang, misalnya pemulungan sampah. Daur ulang merupakan salah satu cara untuk mengolah sampah oragnik maupun anoragnik menjadi benda-benda yang bermanfaat. Daur ulang mememiliki potensi yang besar untuk mengurangi timbunan, biaya pengolahan, dan tempat pembuangan akhir sampah. Manfaat dari daur ulang adalah berikut ini.

1. Menghindari pencemaran atau kerusakan lingkungan. 2. Melestarikan kehidupan makhluk hidup di suatu lingkungan. 3. Menjaga keseimbangan ekosisitem. 4. Mengolah sampah organik dan anorganik. 5. Mendapatkan produk hasil yang berguna. 6. Memperoleh tambahan penghasilan. Daur ulang diperoleh setelah melalui tiga tahapan berikut ini:

1. Pemisahan bahan-bahan organik (sampah tumbuh-tumbuhan dan hewan) dan anorganik (seperti kaleng, tembaga, botol, dan plastik). 2. Penyimpanan bahan-bahan dari sampah tumbuhan dan hewan yang dapat dijadikan kompos dan pengolahan kaleng, plastik, dan botol bekas. 3. Pengiriman/penjualan kepada pemulung atau pun pabrik. Salah satu contoh sampah yang dapat di daur ulang adalah sampah kertas. Sampah kertas berasal dari rumah tangga maupun industri, misalnya dari kegiatan administrasi perkantoran, pembungkus makanan, dan media cetak. Sampah kertas dapat dimanfaatkan menjadi tempat surat, keranjang sampah, tas, tempat buku, rak kecil, dan lainnya yang memiliki nilai jual tinggi bila mendapat sentuhan teknologi dan seni.

Selain itu, bahan gelas yang pecah dapat di daur ulang menjadi botol kecap, botol sirup, piring dan gelas yang baru. Aluminium dapat didaur ulang menjadi kaleng pengemas, sementara baja dijadikan bahan baku pembutan baja baru, dan plastik dimanfaatkan menjadi aneka produk seperti tas, botol minuman, wadah minyak pelumas, botol minuman, dan botol shampo.

Macam-macam limbah lainnya dapat dimanfaatkan secara langsung tanpa menunggu dan melakukan proses daur ulang, seperti:

1. Ampas tahu menjadi bahan makanan ternak (pakan ternak) yang menambah bobot tubuh hewan ternak secara langsung karena mengandung protein yang tinggi. 2. Enceng gondok dapat diolah menjadi barang kerajinan seperti tas, sepatu, tempat kosmetik dan lainnya. 3. Sampah organik seperti daun-daun dan kotoran ternak dijadikan pupuk hijau dan kompos. 11.3.4. Biogas Gas-gas yang dihasilkan dari proses pembusukan sampah oragnik secara anaerobik dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif. Bahan bakunya dapat diambil dari kotoran hewan, sisasisa tanaman, atau campuran keduanya. Secara garis besar, biogas dapat dibuat dengan cara memcampur sampah organik dengan air kemudian dimasukkan kedalam tempat yang kedap udara. Selanjutnya campuran tersebut dibiarkan selama kurang lebih dua minggu. Biogas memiliki beberapa kelebihan, antara lain:

• Mengurangi jumlah limbah. • Menghemat energi. • Sumber energi yang tidak merusak lingkungan. • Nyala api bahan bakar biogas lebih terang/bersih. • Residu dari biogas dapat dimanfaatkan untuk pupuk. Limbah anorganik sangat sulit diuraikan oleh alam, oleh karena itu penanganan limbah tersebut dilakukan dengan 3 cara berikut ini.

1. Sanitary Landfill Merupakan salah satu metode pengolahan sampah organik atau sampah campuran terkontrol dengan sistem sanitasi yang baik. Sampah organik dan sampah campuran dibuang di suatu tempat, kemudian dipadatkan dengan traktor. Selanjutnya sampah organik dan sampah campuran ditutup tanah. Pada bagian dasar tempat tersebut dilengkapi sistem saluran yang berfungsi sebagai saluran limbah cair sampah yang harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke sungai atau lingkungan. Selain itu, pada sistem ini juga dipasang pipa gas untuk mengalirkan gas hasil aktivitas penguraian sampah organik dan sampah campuran. Cara ini sangat menguntungkan karena menghilangkan polusi udara.

2. Pembakaran pada suhu dan tekanan tinggi(insenerasi) Sampah anorganik dibakar di dalam insinerator. Hasil pembakaran adalah gas dan residu pembakaran. Penurunan

volume sampah anorganik hasil pembakaran dapat mencapai 70%. Namun, cara ini relatif membutuhkan biaya yang lebih mahal dibandingkan dengan sanitary landfill, yaitu sekitar tiga kali lipatnya.

3. Penghancuran (Pulverisation) Penghancuran sampah organik maupun sampah campuran dilakukan di dalam mobil pengumpul sampah yang telah dilengkapi alat pelumat sampah. Sampah organik dan sampah campuran langsung dihancurkan menjadi potongan-potongan kecil yang dapat dimanfaatkan untuk menimbun tanah yang letaknya rendah.

Kerugian Ekonomi Akibat Pencemaran

Biaya yang dikeluarkan untuk pengelolaan limbah cair maupun limbah padat sangat besar. Di Jakarta, berdasarkan data statistik tahun 1990, kerugian yang disebabkan oleh pencemaran air ditaksir oleh Bank Dunia sebesar 300 juta dolar AS. Udara juga tidak luput dari pencemaran yang berat.

Menurut Bank Dunia, biaya kesehatan karena pencemaran udara di Jakarata sekitar 200 Juta dolar AS per tahun. Kesehatan masyarakat akibat pencemaran udara menyebabkan meningkatnya kematian yang diakibatkan penyakit yang berhubungan dengan lingkungan. Penyakit tersebut yaitu gangguan pernafasan dan kanker. Contoh-contoh tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa pembangunan yang tidak ramah lingkungan menyebabkan kerusakan lingkungan hidup semakin meningkat yang sangat mempengaruhi kehidupan manusia itu sendiri.

Ada tiga pinsip dasar yang perlu dilakukan untuk menjaga kelestarian, mencegah dan menanggulangi pencemaran, yaitu:

1. Penanggulangan secara administratif Secara admisnistratif pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan dengan menerbitkan peratutan dan undang-undang untuk mencegah penceamaran dan mencegah ekploitasi yang berlebihan terhadap sumber daya alam. Peraturan dan perundang-undangan itu adalah:

a. Pelarangan pembuangan limbah oleh industri ke lingkungan sebelum diolah terlebih dahulu, atau dinetralkan. b. Cerobong asap pabrik harus dilengkapi dengan saringan udara. c. Produk-produk industri harus ramah lingkungan, misalnya menghentikan gas CFC (Chloro fluoro karbon) dan digantikan senyawa lain yang lebih ramah terhadap lingkungan. d. Setiap industri harus memilki instalasi pengolahan limbah cair sendiri.

e. Pengembang harus melakukan studi analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) sebelum membangun pabrik. f. Pembanguan pabrik atau industri harus jauh dari daerah pemukiman. g. Menerbitkan panduan baku mutu lingkungan dan sosialisasi konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) 2. Penanggulangan secara teknologis Beberapa industri perlu mengadakan unit pengolah limbah. Pengolahan limbah dapat di lakukan secara biologis dengan menggunakan mikroorganisme dengan teknik filter, dan insenerator.

Cara lain membuat jalur hijau dan taman kota di daerah perkotaan atau daerah industri yang bertujuan untuk menghasilkan oksigen yang bersih, keindahan kota, dan tempat rekreasi.

3. Penanggulangan secara edukatif Kegiatan yang dilakukan diantaranya ialah mengadakan penyuluhan kepada masyarakat untuk ditanamkan sifat positif dan meningkatkan kesadaran dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Program Pembersihan Kali dan Sungai (Prokasih) merupakan upaya pemberdayaan masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungannya (Gambar 11.8 dan 11.9).

Gambar 11. 8. Program prokasih.

Gambar 11.9. Pembersihan sungai tercemar dari limbah rumah tangga.

Program edukatif diantaranya adalah himbauan agar tidak mencemari lingkungan, tidak membuang sampah di sembarang tempat, jangan menggunakan kertas secara berlebihan, dan jangan membuang plastik serta kaleng ke tempat sampah, melainkan sebaiknya ditanam.

Penggunaan pestisida secukupnya sesuai takaran dan aturan yang ditentukan. Sebaiknya jangan mencuci peralatan penyemprot lahan pertanian di sungai, sumur, atau parit. Menghindari erosi dengan membuat sengkedan pada lahan pertanian miring dan reboisasi pada lahan kritis dengan menanam tanaman tahunan dari jenis lokal. Taman jenis lokal selain cocok dengan kondisi tanah setempat, juga membantu program pemeliharaan biodiversitas dan konservasi organisme lokal. Contohnya penanaman Albibizia sp. (pohon sengon).

Disamping itu mengembalikan kesuburan tanah dengan cara pemupukan (pemberian zat hara yang dibutuhkan tanaman), rotasi tanaman (menanam lahan pertanian dengan jenis tanaman berbeda secara bergantian), tumpang sari, dan penghijauan agar tidak mudah terjadi longsor, banjir, dan erosi (Gambar 11.10 dan 11.11)

Gambar 11.10. Gambar 11.11. Banjir di Tapanuli Sistem tumpang sari Utara akibat illegal loging (Mei 2007) Rangkuman

Ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai hasil perkembangan budaya digunakan untuk mengembangkan berbagai industri yang dapat memenuhi kebutuhan manusia, seperti industri primer, sekunder, dan tersier.

Berbagi industri selain menghasilkan produk yang dihasilkan manusia juga menghasilkan buangan atau limbah. Makhluk hidup, zat, energi, atau komponen penyebab pencemaran disebut polutan. Polutan makhluk hidup atau polutan biologi, contohnya bakteri pada sampah dan kotoran. Polutan zat kimia seperti merkuri (Hg), gas CO2, gas CFC, debu asbes, dan pestisida, sedangkan polutan fisik adalah panas dan radiasi.

Pencemaran berdasarkan bentuknya terbagi empat, yaitu pencemaran udara, pencemaran air, pencemaran tanah, dan pencemaran suara. Pencemaran udara dapat berasal dari karbon monoksida, karbondioksida, nitrogen oksida, sulfur dioksida, hujan asam, efek rumah kaca, penipisan lapisan ozon, dan radiasi. Pencemaran air meliputi pencemaran di perairan, seperti danau, sungai, serta laut. Sumber pencemaran air berasal dari aktivitas limbah rumah tangga, industri, pertanian, pertambangan minyak lepas pantai, serta kebocoran kapal tanker pengangkut minyak. Pencemaran tanah berasal dari limbah rumah tangga, kegiatan pertanian, dan pertambangan. Ancaman serius lain bagi kualitas lingkungan manusia adalah pencemaran suara. Bunyi atau suara yang dapat mengganggu dan merusak pendengaran manusia disebut kebisingan bila intensitas bunyi melebihi 50 desibel.

Dampak polusi terhadap kesehatan manusia adalah berikut ini: dapat menyebabkan seseorang sakit kepala dan pusing,

menimbulkan keracunan, jika orang tersebut terlambat ditolong dapat mengakibatkan kematian, kanker kulit, katarak, infeksi saluran pernafasan, penyakit kulit, kolera, disentri, hati, ginjal, dan tulang, cacat pada saraf mata, kerusakan hati, ginjal, dan tulang, buta, dan hipertensi.

Parameter kimiawi penentuan kualitas air yang perlu diketahui antara lain adalah BOD, COD, DO, dan pH. Pengukuran fisik dapat dilakukan dengan memperhatikan warna, bau, dan rasa air sungai, kecepatan laju air dengan bola pimpong, penetrasi cahaya, dalam dan lebar sungai dan lainnya. Manakala pengukuran biologi dilakukan dengan menghitung indeks keanekaragaman dan kelimpahan mikroorganisme air seperti plankton, benthos, serangga air, moluska, ikan dan lainnya sehingga diperoleh data yang valid.

Limbah anorganik sangat sulit diuraikan oleh alam, maka dilakukan pengelolahannya dengan cara: sanitary landfill, pembakaran sampah (insenerasi) dan penghancuran (pulveration). Manfaat dari daur ulang adalah: menghindari pencemaran atau kerusakan lingkungan, melestarikan kehidupan makhluk hidup di suatu lingkungan, menjaga keseimbangan ekosisitem, mengolah sampah anorganik, mendapatkan produk hasil yang berguna, dan memperoleh tambahan penghasilan.

Ada tiga pinsip dasar yang perlu dilakukan untuk menjaga kelestarian, mencegah dan menanggulangi pencemaran, yaitu penanggulangan secara administratif, teknologis, dan edukatif.

Soal Latihan

A. Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c, d, atau e untuk jawaban yang tepat! 1. Keseimbangan lingkungan dapat menjadi rusak akibat …. a. perubahan tidak melebihi daya dukung dan adanya lenting b. perubahan melebihi daya dukung c. perubahan melebihi daya lenting d. perubahan yang statis e. b dan c benar 2. Berikut ini gas yang dapat menyebabkan hujan asam adalah …. a. SO3 b. SO2 c. H2SO4 d. NH4 e. CO2

3. Polusi udara berhubungan dengan polusi atmosfer bumi. Berikut ini polusi udara yang terjadi akibat kegiatan manusia, kecuali …. a. kegiatan pabrik yang menimbulkan gas beracun dan berbahaya b. penggunaan knederaan bermotor c. kegiatan pembukaan lahan dengan cara pembakaran hutan d. kegiatan rumah tangga menimbulkan limbah e. konsumsi masyarakat terhadap produk industri yang menghasilkan gas CFC 4. Berikut ini merupakan efek pemanasan global adalah …. a. kabut b. hujan asam c. penipisan lapisan ozon d. mencairnya es dikutub e. a, b, dan c benar 5. Pencemaran air tanah di kawasan permukiman biasanya akan segera dirasakan oleh penduduk setempat. Tanda yang akan segera diamati dalam bentuk …. a. tanah berubah warna b. air tanah menjadi berbau tidak sedap c. banyak tanaman yang mati d. keluar uap air dari dalam tanah e. kualitas air tanah menurun 6. Tidak semua bahan pencemar adalah zat asing tetapi dapat zat yang secara alami ada di lingkungan. Contoh zat pencemar udara yang secara aklami sebenarnya terdapat di udara adalah …. a. O2 b. CO c.CO2 d.SO2 e.NO2 7. Sampah yang tidak dapat diuraikan secara biologis adalah …. a. material tanaman b. makanan c. plastik d. kertas koran e. bangkai hewan

8. Apabila pemerintah telah memutuskan suatu tempat digunakan sebagai lahan atau tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, teknologi yang seharusnya disiapkan adalah …. a. sanitary landfill b. insenerasi c. pulverisation d. recycling e. composting 9. Pertambangan emas sangat berpotensi mencemari lingkungan dalam skala luas dan memberikan dampak dalam jangka panjang. Dalam proses penambanagan emas, bahan berbahaya yang digunakan adalah …. a. HCl b. merkuri c. timbal d. DDT e. CFC 10. Adanya mikroorganisme pada pembuatan kompos berfungsi untuk …. a. menyuplai ketersediaan oksigen b. mengurangi aerasi pada sampah c. meningkatkan keasaman sampah d. membantu penguraian sampah e. menurunkan kebasaan sampah B. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan benar! 1. Mengapa kadar CO yang lebih tinggi dibandingkan O2 di udara berbahaya bagi manusia? 2. Apakah akibat pemanasan global yang berpengaruh pada manusia? 3. Mengapa aktivitas pertanian dan perindustrian mempengaruhi peningkatan efek rumah kaca? 4. Lihatlah di sekitar rumahmu, seperti dapur, kamar mandi, kamar, dan garasi. Berapa banyak produk aerosol yang kalian beli? Apa bahayanya menggunakan produk ini? 5. Tuliskan bentuk-bentuk pengolahan limbah peternakan ditemukan di sekitar kalian!

6. Salah satu pencemaran serius adalah pencemaran suara. Jelaskan kriteria pencemaran suara dan bagaimanakah dampak pencemaran tersebut bagi manusia? 7. Lingkungan pertanian sering diidentifikasi sebagai lingkungan yang aman bagi lingkungan. Akan tetapi, sebenarnya lingkungan pertanian modern tidak sepenuhnya aman. Identifikasikan minimal tiga sumber polutan yang dihasilkan dari lingkungan pertanian dan dampaknya bagi lingkungan sekitarmu! 8. Mengapa perusakan hutan hujan tropis mempengaruhi penemuan obat untuk penyembuhan penyakit? 9. Jelaskan cara penanganan limbah anorganik! 10. Tuliskan manfaat penggunaan biogas dalam kehidupan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>